Kara, trust me.

Langkah kaki besar milik Jevan berjalan dengan cepat menyusul Kara yang sudah hampir memasuki gerbang. Lengan gadis itu langsung ditarik dengan cepat oleh Jevan, sedangkan tubuhnya langsung didekap dalam dekapan Jevan.

Kara yang sudah menahan tangisnya harus pecah dalam pelukan lelaki itu. Ia menangis sejadi-jadinya, meluapkan rasa sakit yang ia tahan selama hampir setahun belakangan. Rasanya semua pertahanan milik Kara telah hancur saat ia melihat sebuah screen shot chat milik Jevan dan juga Cia.

“Ra, dengerin aku dulu.” ujar Jevan sambil mengeratkan pelukannya.

Kara hanya bisa menangis dan terisak. Lidahnya terlalu kelu untuk berbicara. Hatinya juga terlalu lelah untuk menerima Jevan untuk sekarang.

“Ra, aku lagi berusaha. Aku mau kasih seluruh hati aku buat kamu, sayang. Aku tau aku salah, dan bodohnya aku tetep deketin Cia dengan posisi aku itu pacar kamu. Tapi aku sadar Cia bukan buat aku, Ra. Tuhan dengan baiknya kirim kamu ke hidup aku, tapi aku dengan brengseknya nyakitin kamu.”

“Ra, percaya sama aku. Percaya kalau aku bisa sayang sama kamu. Setengah hati aku udah berhasil kamu ambil, Kara.”

“Jevan, aku capek banget.”

Jevan mengeratkan pelukannya saat gadis itu semakin terisak. Dada Jevan terasa sesak saat ia mendengar Kara menangis. Hatinya seperti ikut merasakan apa yang Kara rasakan sekarang.

“Ra, maafin aku. Kasih aku kesempatan kedua kalinya buat tunjukin semua tindakan aku sebagai bukti ke kamu.”

“Jev, aku capek. Tolong menjauh dari aku untuk beberapa hari. Tolong kasih aku ruang untuk memperbaiki semuanya. Sekarang terlalu berantakan untuk bahas ini semua, Jevan.”

Kara mengahapus air matanya. Dengan perlahan ia melepaskan pelukan lelaki itu.

“Jev, biarin aku menjauh dulu ya? Aku cuman butuh rasa tenang, bukan tekanan yang kamu paksain ke aku. Kasih aku ruang.” ujarnya dengan suara bergetar.

Jevan menatap mata Kara. Mata yang penuh dengan luka. Dan Jevan mengerti, betapa lelahnya Kara dengan hubungan yang mereka bangun.

“Aku tunggu kamu sampai tenang, Ra. Aku bakalan kasih ruang ke kamu. Kalau kamu udah siap buat ngomong lagi, bilang ya? Setelah itu terserah kamu mau lanjut atau terus.”

Dengan perlahan Jevan berjalan mundur. Bibirnya ia tarik sedikit hingga tercipta senyum tipis yang terkesan dipaksakan. Langkahnya membawa seluruh tubuhnya pergi dari kawasan tempat tinggal Kara.

Namun telinganya masih dapat mendengar suara tangisan Kara yang kembali pecah.