Keadaan Bintang.
—
Ayyara mengeratkan pelukan pada Sabiru. Gadis itu sangat khawatir sebab belum ada dokter atau perawat yang keluar dari ruangan Bintang. Ayyara takut, sangat takut jika kondisi bintang semakin menurun minggu ini.
“Bunda, Ayya takut.” Suara Ayyara terdengar gemetar. Gadis itu membenamkan kepalanya pada leher Sabiru. Ia merasa nyaman dengan usapan hangat sang Bunda sambungnya.
“Tenang Ayya, Bunda yakin Bintang baik-baik aja. Do'a terus ya buat Bintang? Semoga Tuhan kasih kesembuhan buat Bintang ya?” Ujar Sabiru dengan selembut mungkin.
Memang Sabiru bisa dibilang wanita tidak baik, namun ia tak akan pernah mau menjahati Ayyara. Karna bagaimanapun Sabiru harus menjalankan amanah dari seorang perempuan yang bisa dibilang berharga untuknya.
Suara decitan pintu terdengar dengan sangat nyari. Membuat Ayyara dan juga Sabiru dengan reflek berdiri, menatap Tara yang matanya terlihat sembab dan juga keringat yang membasahi sekujur wajah hingga lehernya.
“Om? Bintang gak apa-apa kan?”
Ayyara menatap penuh harap kepada Tara. Lelaki itu menghembuskan nafasnya pelan. Mengatur nafas seolah ia telah berlari jauh mengelilingi lapangan. Tetapi nyatanya Tara benar-benar berlari. Berlari dari kemungkinan buruk dan juga kehilangan. Tara tak mau semua itu terjadi.
“Bintang...” Tara menggantung ucapannya, ia menarik nafas membuat Ayyara menggigit bibir bawahnya khawatir.
“Bintang baik-baik aja kan, Om? Bintang gak apa-apa kan?”
Tara tersenyum tipis, ia mengusap pucuk kepala Ayyara dengan lembut dan juga pelan.
“Bintang gak apa-apa. Dia harus istirahat yang cukup dan gak boleh stress. Kamu tenang aja ya? Kemungkinan seminggu ini Bintang boleh pulang kalau dia penuhi syaratnya.”
“Alhamdulillah.” Ayyara memeluk Sabiru dengan perasaan senang.
Kekhawatiran gadis itu telah hilang setengahnya, tidak seluruhnya. Karna Ayyara tau, bahwa Kanker Hati tidak mudah untuk di sembuhkan.