Kebaikan yang menyakitkan.

Ruangan yang dilapisi kedap suara itu hanya ditempati oleh dua orang yang berbeda jauh umurnya. Tara dan juga Ayyara.

Gadis dengan mata sembab itu terus melihat kearah kertas yang menjelaskan penurunan drastis dari kondisi Bintang. Ayyara semakin takut ia akan kehilangan kekasihnya. Namun jika Bintang sembuh sama saja Bintang kehilangan wanitanya kan?

“Ay, Om denger dari Sheiren katanya kamu-”

“Gak ada cara lain, Om.”

“Ada, Ay. Pasti ada.”

“Ada? Om nemu pendonor gak sampai sekarang? Enggak kan?”

Ayyara berucap sarkas tanpa sadar. Gadis itu sangat sensitif jika membahas Bintang. Ia tak terima jika orang-orang membiarkan Bintang bertahan dengan alat medis tetapi seperti tidak ada kehidupan.

“Ay-”

“Om! Tolong, biarin Bintang lanjutin kehidupannya. Bintang bisa nyari perempuan lain tapi Bintang gak bisa nyari umur panjangnya, Om.”

“Om percaya sama Ayya ya? Ayya udah mikirin ini sejak lama.”