Kebohongan yang di percaya.
—
Pintu rumah orang tua Acha terbuka lebar setelah gadis itu beberapa kali memencet bel yang berada di dinding dekat pintu utama. Acha masuk terlebih dahulu, diikuti Kayna dan juga Mahesa yang berjalan dibelakang Acha. Layaknya penjaga yang takut jika terjadi hal buruk kepada Acha.
“Ma, Pa.” Acha duduk disofa panjang yang bisa menempatkan 3 orang. Sementara kedua orang tua Acha duduk di sofa single yang berada diantara kanan dan kiri. Dan Mahesa serta Kayna duduk mengapit Acha yang berada di tengah.
Papa Acha menatap dingin putri tunggalnya. Merasa marah saat mendapatkan kabar dari Jordy jika Acha telah pergi dari rumah tanpa pamit selama sebulan lebih. Terlalu pintar bersembunyi sehingga butuh waktu lama Jordy menemukan Arasyia yang ternyata tinggal di apart dekat dengan rumah Mahesa.
fyi, rumah Mahesa dan rumah Jordy jauh ya.
“Jelaskan semuanya, Arasyia.” ujar Papa dengan sangat dingin
Acha menunduk. Gadis itu memasang wajah seakan takut dengan sang Papa. Namun jauh dilubuk hatinya, ada rasa tak sabar yang sangat membuncah.
“M-maaf, Pa. Tapi, Acha bawa kabar baik buat kalian.” ujar Acha membuat Mama dan juga Papa menatap bingung.
Acha mengambil sebuah testpack yang menunjukan garis dua. Tanda bahwa Acha telah hamil beberapa minggu kemarin. Ia menaruh testpack tersebut diatas meja dan langsung di ambil oleh Papa.
“Kamu hamil?”
“Iya. Acha Hamil, Ma, Pa.”
Mama dan juga Papa menatap tak percaya sekaligus haru. Namun Acha lebih memilih untuk menunduk, memasang wajah sedih yang membuat mereka semua bingung.
“Cha, kenapa?” tanya Kayna dengan cemas.
“Aku...aku bukan hamil anak Jordy. Tapi ini anak Mahesa.”
Deg!
Jantung Kayna seperti terhantam oleh sesuatu yang keras. Membuat jantung itu berhenti detak sesaat. Sedangkan Mahesa, ia langsung menatap Acha dengan tatapan tajam.
“Saya tidak pernah menyentuh kamu, Arasyia.” ujarnya dengan amarah.
Papa mengepalkan tangannya. Ingin sekali mengambil tindakan gegabah namun ia masih ada pikiran waras untuk tidak membuat keributan.
“Saya mau setelah anak saya lahir, kalian harus mencocokan DNA. Jika benar itu anak Mahesa, makan saya akan nikahkan kalian berdua.” ujarnya sebelum berlalu pergi diikuti sang Mama.
Kayna terdiam. Menatap Mahesa dan juga Acha secara bergantian. Hatinya mencolos saat mendengar bagaimana dengan lantangnya Acha berbicara bahwa anak yang ada dikandungannya adalah anak Mahesa.
“Kay, maafin gue.” suara Acha terdengar seperti gemetar.
“A-aku...aku pulang sekarang ya. Permisi.” Kayna langsung berdiri, gadis itu sedikit berlari untuk keluar dari rumah Acha.
Mahesa ingin mengejarnya, namun dengan cepat Acha menahan tangan lelaki itu.
“Sa, jangan kemana-mana. Aku takut.”
Mahesa menepis tangan Acha dengan kasar. Tak perduli dengan teriakan Acha yang terus memanggil namanya. Yang Mahesa utamakan sekarang adalah Kayna. Kayna datang berasamanya dan pulang harus dengannya.
“Kayna!” teriak Mahesa sambil melihat kanan kirinya.
Tak ada. Mahesa terlambat untuk mengejar. Kayna sudah tak lagi terlihat di perkarangan rumah Acha. Kayna pergi dengan cuaca mendung yang akan segera turun hujan. Tanpa pikir panjang, Mahesa langsung masuk ke mobilnya. Meninggalkan rumah Acha dengan ribuan kecemasan.
“Kay, kamu dimana? Itu bukan anak saya, Kayna.”