Kecemasan yang nyata.

Perempuan dengan dress berwarna biru muda itu terus menghela nafasnya setelah sampai pada perusahaan yang dipimpin oleh suaminya. Kayna terus memperhatikan kotak bekal yang ia bawa. Antara takut tidak Mahesa terima atau takut untuk menemui Mahesa.

Saat Kayna ingin masuk kedalam, Mahesa lebih dulu keluar karna ingin mengambil botol minum yang tertinggal di mobil. Wajah Kayna berubah panik, ia gelagapan saat ditatap dengan raut wajah bingung oleh Mahesa.

“Mana pesanan saya?” Tanya Mahesa.

Kayna meneguk ludahnya dengan susah payah. Ia memberi kotak bekalnya kepada Mahesa.

“I-itu, mas.”

Mahesa mengangguk. Ia memperhatikan sekitar karna banyak lelaki yang memperhatikan Kayna. Lelaki itu langsung merangkul Kayna secara posesif hingga membuat gadis itu membulatkan matanya terkejut.

“Keruangan saya. Disini banyak mata buaya.” Bisik Mahesa.

Kayna mengangguk dengan canggung. Ia ingin masuk kedalam namun terhenti karna tiba-tiba saja sekitarnya berubah memudar. Kayna memegang kepalanya yang sakit, ia hampir saja limbung jika tidak Mahesa tahan dengan lengannya.

“Kay?” Mahesa menepuk pipi Kayna dengan pelan. Gadis itu hanya mampu meringis sambil memegang kepalanya.

“Kita kerumah sakit sekarang.”

Dengan cekatan Mahesa menggendong Kayna dan langsung membawa gadis itu ke mobil. Terlihat dengan jelas mata Mahesa yang memancarkan kekhawatiran yang sialnya Kayna tak bisa lihat.

Sudah tiga puluh menit Mahesa terus menemani Kayna yang masih berada dialam bawah sadarnya. Lelaki itu ingin sekali menggenggam tangan Kayna. Namun lagi-lagi bayangan Esa lah yang muncul dikepalanya.

Suara decitan pintu membuat Mahesa menoleh. Seorang perempuan dengan pakaian jas dokternya membuat Mahesa langsung berdiri dari duduknya. Ia menghampiri dokter tersebut.

“Kayna bagaimana? Apa dia sakit?” tanya Mahesa sepelan mungkin.

Franche —dokter yang memeriksa Kayna— tersenyum dengan lebar. Ia memberikan sebuah amplop yang berisikan hasil tes dari Kayna.

“Silahkan dibuka, pak.”

Mahesa menaikan sebelah alisnya. Ia menatap amplop itu terlebih dahulu, membaca beberapa tulisan yang berada diluar amplop tersebut. Lalu dengan pelan ia membuka ampolnya. Mengambil surat dan juga sebuah foto dari hasil tes Kayna.

Dengan perlahan Mahesa membaca surat tersebut. Mencari inti dari hasil tes pemeriksaan Kayna. Matanya terhenti di satu kalimat yang berhasil membuat Mahesa membeku. Ia mengulang kembali bacaannya, berharap apa yang ia baca sebelumnya itu salah. Namun sialnya, tak ada yang berubah.

Kayna telah diberikan sebuah “titipan” berupa janin dari Tuhan.