Kelopak mata yang terbuka

Sudah seminggu sejak operasi Bintang. Tetapi belum ada tanda-tanda bahwa lelaki itu akan siuman. Ayyara mengusap rambut Bintang dengan lembut. Sesekali mencium pipi lelaki itu. Rasanya hangan dan juga dingin secara bersamaan.

“Bintang, bangun. Ayya kangen sama Bintang.” Ayyara terus membisikan kalimat yang sama saat ia baru sampai diruangan Bintang.

Berharap lelaki itu akan bangun dan membalas ucapan Ayyara bahwa dirinya juga merindukan Ayyara.

Ayyara menghela nafas pelan, dirinya ingin pasrah kepada kekuasaan Tuhan tetapi ia tak boleh menyerah.

Gadis itu berdiri, mengambil lembara surat yang ada dilaci. Surat yang ternyata sudah disiapkan oleh Tara untuk anak tirinya.

“Ay...” Lirihan suara itu membuat Ayyara membeku.

Gadis itu menoleh secara perlahan kearah Bintang. Matanya menatap mata Bintang yang baru saja terbuka, bahkan lelaki itu masih berusaha untuk menyesuaikan cahaya. Ayyara langsung menyimpan kembali suratnya. Ia berlari keluar untuk memanggil dokter atau perawat yang berada disana.

Ia bersyukur. Tuhan masih memberikannya kesempatan untuk hidup lebih lama bersama Bintang. Ayyara sangat amat bersyukur pada keajaiban Tuhan.

Ayyara berfikir, ia tak dapat lagi melihat Bintang. Entah Bintang yang pergi atau Ayyara yang pergi. Namun Tuhan mempunyai rencana lain. Rencana yang lebih indah untuk mereka berdua.