Kembali.

Satya membuka pintu rumahnya dengan perlahan. Hari ini ia sudah diperbolehkan untuk pulang karna kondisinya yang sudah membaik. Tetapi Satya harus melakukan check up rutin untuk mengetahui kondisi jantung barunya.

Kakinya masuk kedalam rumah yang sudah lama Satya tidak lihat. Rumah yang penuh dengan kenangan manis dan pahitnya. Ruang tamu adalah spot favoritnya. Karna itu tempat terakhir kalinya ia dan Jeffryan berbincang.

Satya telah mengetahui semuanya. Walau awalnya ia merasa tak terima dan terus menyalahkan dirinya atas kepergian Jeffryan, namun perlahan ia bisa menerimanya.

“Ma, Satya izin ke kamar Mama sama Papa ya?” Satya menoleh kearah Kiara, meminta izin yang disetujui oleh Kiara.

Lelaki itu tersenyum tipis, langkahnya langsung menuntun tubuhnya untuk memasuki kamar orang tuanya.

Harum parfume yang dipakai Kiara dan Jeffry tercampur didalam ruangan itu. Membuat Satya tersenyum mengingat wajah kedua orang tuanya. Matanya meneliti sekitar, banyak terdapat barang milik Jeffryan dan juga bingkai foto Jeffryan.

Matanya berhenti pada sebuah lemari besar. Entah mengapa Satya membuka lemari itu hinggal menampilkan banyaknya kemeja dan juga jas kerja milik sang Papa. Air matanya berhasil lolos saat ia menyentuh salah satu kemejanya. Kemeja yang digunakan oleh Jeffryan ketika mereka menonton film pada malam itu.

Matanya melirik keatas, Satya melihat adanya kotak kecil disana. Entah milik siapa namun Satya tetap mengambilnya. Membuka kotak kecil itu yang ternyata berisikan surat.

Satya membaca suratnya secara pelan-pelan dengan perasaan yang sangat campur aduk. Itu adalah surat yang ditulis oleh Jeffryan untuk dirinya.

Sebuah tulisan pendek yang memiliki seribu makna. Tulisan yang mampu menyayat hati Satya hingga lelaki itu kembali terisak dan memeluk suratnya.

“Satya juga sayang sama Papa.”