Kembali bertemu untuk kesekian kali.
Sejak 10 menit yang lalu, Jevan dan Liona sudah berada diruang private yang berada disalah satu restoran di Bandung. Keduanya dari tadi sama-sama terdiam, memikirkan bagaimana pertemuan mereka dengan masa lalunya.
Jevan menoleh kearah Liona yang berkeringat, tangannya dengan reflek menggenggam tangan Liona. Membuat Liona menoleh dengan tatapan terkejut.
“It's okay. Semuanya bakalan baik-baik aja, Li. Jangan cemas karna Tama ya?” ujar Jevan berusaha menenangkan.
Liona tersenyum, ia melepaskan genggamannya lalu beralih mengusap punggung Jevan.
“Kamu juga, Jev. Kara pasti paham kok sama kondisi kamu. Aku yakin dia gak akan marah.”
Kali ini Jevan yang tersenyum, walau hanya tipis, tetapi terlihat dengan jelas bahwa lelaki itu sedikit tenang.
Berselah 5 menit, ruangan privat itu terbuka. Menampilkan seorang lelaki dan perempuan yang bergandeng dengan mesra. Membuat hati Jevan langsung terbakar api cemburu.
Sedangkan Liona, gadis itu tak menoleh sama sekali. Lebih memilih untuk menyiapkan beberapa berkas yang diperlukan untuk membahas kontrak. Mengabaikan Tama dan Kara yang sudah datang.
Kara, perempuan itu ingin menghampiri Jevan. Namun tangannya langsung digenggam erat oleh Tama. Menandakan bahwa Kara tak boleh berjalan sebelum Tama.
“Silahkan duduk.” ujar Liona dengan setenang mungkin. Gadis itu berdiri, menoleh kearah Tama dan Kara dengan senyum lebar. Membuat Tama mematung di tempat.
“Ona?” gumam lelaki itu sambil memandangi Liona.
Kara menoleh kearah Tama, menatap suaminya yang memperhatikan Liona dengan sangat intens.
“Tama? Kamu kenal dia?” tanya Kara membuat Tama tersentak. Lelaki itu tak menjawab sama sekali. Lebih memilih mengajak istrinya untuk duduk dihadapan Jevan dan Liona.
Liona kembali duduk. Dihadapannya sekarang adalah Kara. Menatap gadis tersebut yang sibuk menatap Jevan.
“Jadi, kita mu-”
“Jevan, boleh kan kita bahas masalah pribadi dulu?” Kara berujar dengan suara bergetar.
Sungguh, gadis itu sangat merindukan Jevan. Kara sangat merindukan cinta lamanya. Dan sekarang Jevan kembali setelah berita kematian palsunya terungkap. Membuat harapan Kara untuk bersama Jevan kembali tumbuh dengan besar.
Tama mengepalkan tangannya. Amarahnya memuncak saat Kara tak henti-hentinya menatap Jevan. Membuat rasa cemburu tumbuh dengan cepat.
“Aletta.”
“Tama, aku mohon. Tolong, tolong kasih waktu aku sama Jevan. Aku mohon.”
“Kamu istri saya, Aletta! Mana ada suami yang mengizinkan istrinya dengan lelaki lain?!”
Lepas sudah emosi Tama. Nafas lelaki itu memburu, menatap istrinya dengan tatapan tajam. Membuat Kara menunduk dengan takut.
Jevan yang melihat itu langsung berdiri mendekati Kara. Menarik gadis itu kebelakang punggungnya. Melindungi Kara dari amarah seorang Tama.
“Kara paling gak suka di bentak. Kamu bisa bilangin dia secara baik-baik, gak usah pakai bentakan. Sadar gak udah bikin Kara ketakutan?” tatapan Jevan berubah dingin, suara lelaki itu datar karna menahan amarah. Tak terima jika Kara dikasari dengan lelaki lain.
“INI SEMUA KARNA KAMU SIALAN!”
Bugh-!
Tama memukul rahang Jevan dengan keras hingga lelaki itu jatuh. Darah segar mengalir dari sudut bibir Jevan, tetapi lelaki itu tak meringis sama sekali.
“Karna saya? Saya hanya mengungkapkan identitas. Seharusnya kamu tidak usah takut Kara saya rebut kalau Kara benar-benar mencintai kamu.” Jevan berdiri dengan seringai. Lelaki itu membenarkan kerah jasnya yang berantakan.
Tangan Tama semakin terkepal, lelaki kembali memukul. Bukan, bukan Jevan yang kena pukulan. Tetapi Kara yang berdiri tiba-tiba didepan Jevan.
“Kara!” Jevan mendekati Kara yang terjatuh sambil memegangi pipinya. Lelaki itu langsung membantu Kara untuk berdiri. Melihat pipi Kara yang memerah. Emosi Jevan langsung memuncak sekarang.
Bugh-!
“BANGSAT LO! KALO GAK BISA JAGA KARA GAK USAH NIKAHIN DIA ANJING! GAK USAH SAKITIN KARA! PENGECUT! BAJINGAN!”
Jevan memukul Tama dengan membabi buta. Tak memberi Tama waktu untuk melawan. Terus memukul hingga Tama tak bisa berkutik sama sekali.
Liona, gadis itu bingung harus melakukan apa. Ingin menghampiri Kara, tetapi ia takut karna tak kenal. Ingin menghampiri Jevan, tetapi takut jika terkena pukulan. Ah, rasanya gadis itu ingin menghilang sekarang juga.
“JEVAN! UDAH! JANGAN BUNUH KAK TAMA!” hingga Liona berusaha menarik lengan Jevan. Membuat lelaki itu langsung berhenti karna takut melukai Liona.
“Jevan, udah ya? Ayo kita pulang aja. Tenangin diri kamu ya?” Liona berujar dengan lembut. Menatap Jevan dengan tatapan yang penuh kesabaran. Membuat Lelaki itu pernah menghembuskan nafas yang tenang.
“Awas lo bangsat.” ujar Jevan terakhir kalinya. Sebelum meninggalkan Kara dan Tama diruang privat yang berantakan.