Kembali Memeluk.

Pantulan suara berlari dengan kencang memenuhi lorong rumah sakit. Kecepatan berlari Marvel perlahan berkurang saat ia hampir dekat dengan ruang rawat milik adiknya. Nafasnya memburu karna larinya yang begitu kencang.

Dengan perlahan tangan Marvel memegang gagang pintu untuk membuka. Lelaki itu mendorongnya dengan perlahan, langkahnya berjalan masuk dengan diikuti rasa ketakutannya. Pesan terakhir dari Satya membuat ketakutan menyelimuti hatinya.

Matanya menangkap adiknya yang terbaring dengan infus yang berada ditangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya digenggam oleh sang Mama.

“Satya...”

Suara lirih Marvel dapat membuat Satya menoleh. Lelaki itu tersenyum tipis, dengan perlahan ia bangun dari posisi baringnya dengan dibantu oleh Kiara. Tangannya sengaja ia renggangkan, mengisyaratkan Marvel untuk memeluk dirinya.

Dengan cepat Marvel berlari menghampiri Satya, lalu menubruk tubuh ringkih lelaki itu dan memeluknya dengan erat.

Bagaima bisa dirinya lebih memprioritaskan pacarnya ketimbang adiknya yang ternyata memiliki sakit yang parah? Dan tanpa sadar Marvel telah berbicara kasar kepada Satya beberapa hari kebelakang.

“Satya, maafin gue. Gue minta maaf, gue salah udah kasar sama lo.” Marvel terisak, ia tak berani mengeratkan pelukannya karna kata suster Satya mengidap jantung lemah. Dan itu yang membuat dunia Marvel untuk adiknya seketika runtuh dengan cepat.

“Abang, menurut Satya abang itu yang terbaik. Satya emang marah, tapi Satya gak pernah bisa benci abang. Karna abang yang selalu ada buat Satya.”

Suara Satya terdengar dengan lirih dan juga nafasnya yang berat. Membuat Marvel harus menahan isakannya yang akan keluar dengan kencang.

“Jangan tinggalin gue. Lo adik gue satu-satunya.”

Satya hanya tersenyum dengan tipis. Matanya terpejam, dagunya ia taruh di bahu Marvel. Hatinya telah terasa tenang sekarang. Walaupun tak ada sang Papa, untuk sekarang Mama dan juga Marvel sudah terasa cukup.

Setidaknya Satya bisa pergi dengan dua harapan yang sudah terwujud.