Kembali Mengenang

Elena berdiri disamping makam yang sudah 3 tahun berada disana. Perlahan gadis itu duduk pada batu kecil yang ada disamping makam. Mengusap batu nisan yang terlihat masih seperti baru. Bersih dan masih terlihat bagus.

“Akala, aku datang.”

Suara Elena terdengar sangat pelan. Gadis itu menahan tangisnya untuk yang kesekian kali. Bahkan Elena tak bisa kalau tidak menangis setiap datang ke makam Akala.

“Akala, ini bunga sama surat buat kamu.”

Elena menaruh surat dan juga bunga diatas makam Akala. Gadis itu buru-buru menghapus air matanya. Seolah takut Akala akan marah jika ia menangis didepan makam kekasihnya.

“Akala, apa kabar?”

Hening. Tidak ada suara apapun. Hanya suara antara gesekan baju dan juga tangan Dylan yang sedang mengusap punggung Elena.

“Akala...aku kangen kamu. Kamu pasti kangen aku kan? Soalnya udah sebulan aku gak kesini. Kamu pasti kangen kan?”

“Akala, kenapa kamu bisa lihat aku dari sana sedangkan aku nggak? Kenapa kamu pergi sedangkan aku menetap? Rasanya semua percuma kalau aku terus-terusan disini tetapi kamu pergi.”

“Akala, maaf. Maaf karna aku kamu harus pergi, karna aku semua orang merasa kehilangan kamu, karna aku hari bahagia itu menjadi mimpi buruk untuk semua orang.”

Elena terdiam sejenak. Gadis itu mengeluarkan isakan kecil sambil menunduk.

“Akala, aku gak bisa lama-lama disini. Sakit. Semuanya sakit saat ingat bagaimana kamu tertabrak dulu.”

“Akala, aku pulang dulu ya? Sampain salam aku buat mama papa angkat aku karna aku gak bisa ziarah ke makam mereka.”

“Love you...Akala.”