Kenyataan
—
Gadis dengan pakaian santai itu memasuki Caffe kecil yang berada didekat komplek perumahannya. Matanya melirik kekanan dan kekiri, memcari seseorang yang katanya ingin bicara tentang kebenarannya selama ini. Padahal gadis itu sudah memberi file berisikan bukti-bukti yang sangat akurat.
“Alana.” panggil seseorang dengan cukup kencang membuat Alana menoleh. Gadis itu langsung menghampiri Arga yang ternyata sudah sampai terlebih dahulu.
Alana menarik kursi dihadapan Arga. Ia langsung duduk tanpa memesan apapun. Gadis itu ingin menyelesaikan semua urusannya dalam waktu yang tidak lama.
“Apa? Bukannya semua udah jelas ya? Bahkan bukti itu akurat, bukan bukti palsu.” ujar Alana dengan sangat ketus.
Arga menunduk, lelaki itu seperti menahan tangisnya dan sibuk memainkan jarinya sendiri. “Gue bukan mau bahas itu sebenernya.”
Alana menaikan sebelah alisnya. Merasa bingung dengan jawaban Arga. Lalu untuk apa Arga menemui Alana kembali?
“Apa lagi?”
“Al, gue minta maaf sama lo. Maaf selama ini gue selalu duain lo dan lebih milih nemenin anak pembunuh itu, yang sialnya dia adik gue sendiri. Gue bener-bener nyesel banget selama ini tutup mata atas Paula. Tapi soal gue yang selingkuh sama Paula, itu semua paksaan dari dia. Gue gak berharap lo percaya sama gue atau enggak, karna gue tau semuanya udah terlalu fatal buat lo bisa percaya sama gue lagi.”
“Dan bodohnya gue berharap gue bisa balik sama lo lagi dengan alasan gue gak tau apa-apa. Tapi gue gak mau, karna gue tau gue cuman bisa nyakitin perasaan lo selama ini.”
“Gue mau balik sama lo.”
Deg!
Arga terdiam, nafasnya bahkan berhenti sejenak. Ia menatap lekat-lekat mata Alana. Apa Arga bisa mendapatkan kesempatan lagi dari Alana?
“Tapi setelah dipikir-pikir, kayaknya pilihan gue salah. Udah cukup satu tahun gue selalu makan hati sama lo, udah cukup satu tahun gue selalu ngalah sama Paula, udah cukup satu tahun gue nahan amarah karna lo gak pernah anggap gue ada. Dan selama satu tahun itu, cuman ada Haidar yang selalu nolongin gue, ada disaat gue sedih, ada disaat gue mau marah sama lo.”
“Dan selama lo abaikan gue, disitu juga lo biarin gue jatuh hati sama Haidar.”
Arga menunduk, air matanya berhasil jatuh saat Alana mengungkapkan semuanya. Ia mengepalkan tangannya dibawah meja. Arga kecewa, Arga marah, Arga sangat benci dirinya sendiri. Ia akui ia bodoh, sangat bodoh sampai lupa bahwa ia juga mencintai Alana sangat dalam. Sampai Alana jatuh hati dengan orang yang bisa menggantikan dirinya.
“Ga, gue harap lo bisa jadiin ini semua pelajaran. Cinta seorang perempuan, itu bukan main-main. Bukan berarti lo bisa mainin seenaknya. Rasa cinta perempuan akan hilang ketika lo juga hilang terus-terus. Gue harap lo paham, Ga. Dan soal kasus nyokap lo, semoga cepet selesai.”
Alana berdiri, ia tersenyum tipis kepada Arga yang masih menunduk. Lalu ia memutuskan untuk pergi dengan hati yang sesak. Entahlah, Alana akan mengikhlaskan berpisah dengan Arga. Karna nyatanya ia sudah tak ada lagi rasa dengan lelaki itu. Rasa itu telah berhasil Haidar rebut.
Tapi ia tak tau, apakah Haidar memiliki rasa yang sama atau tidak. Karna selama ini, Haidar selalu menyebut mereka dengan sebutan teman.