Keributan.

Suasana ruangan privat yang disewa oleh Jeffryan begitu hening sebab Evelyn yang terlalu sibuk dengan ponselnya. Jeffryan menghela nafas panjang, entah mengapa perasaannya menjadi tidak enak sekarang.

“Papa.” suara seorang gadis yang sangat familiar masuk dengan santainya kegendang telinga milik Jeffryan dan Evelyn. Mereka berdua menoleh, menatap kehadiran Orelyn yang datang bersama Jean.

“Lo ngapain ajak orang lain sih? Ini kan acara keluarga.” protes Evelyn sambil menatap Orelyn dengan kesal.

Orelyn berdecih pelan, ia memilih untuk duduk dihadapan Jeffryan dan Evelyn. Menyisakan dua kursi yang menghadap kearah jendela yang berada disampingnya.

“Lo orang baru, gak usah banyak ngatur.”

“Orelyn.” jawaban sarkas dari Orelyn langsung mendapat teguran dari Jeffryan. Orelyn berdecak, ia mengambil menu yang berada diatas meja.

“Cuman makan malem kan? Cepet deh. Aku sama Jean masih ada urusan lain.” ujarnya sambil melihat menu-menu yang tertera.

Suara langkah kaki dua orang berhasil mengalihkan pandangan Orelyn dan yang lainnya. Orelyn menatap terkejut kearah lelaki yang memakai pakaian formal sekarang. Ia berdiri saat tiba-tiba saja Evelyn menghampiri lelaki itu dan menggandeng lengannya.

“Haekal?” gumam Orelyn dengan suara pelan. Ia menatap Evelyn dengan tatapan yang tajam, menyuruh Evelyn untuk melepaskan genggamannya pada kekasihnya. Haekal tentu sudah melawan, berkali-kali menolak namun Evelyn mengaitkan kembali lengannya.

“Lepasin! Apaan sih lo?!” Orelyn menghampiri Evelyn, ia langsung menarik lengan gadis itu hingga genggaman terlepas.

“Lo yang apaan?! Haekal itu calon tunangan gue!”

“Mimpi tau gak?! Haekal mana mau sama lo?! Haeka itu pa—”

“Orelyn, Papa akan menjodohkan Haekal dengan Evelyn.”

Ucapan Jeffryan berhasil membuat Haekal dan Orelyn menatapnya dengan terkejut. Gadis itu menggeleng, ia langsung memeluk Haekal dengan erat.

“Maaf, Om. Saya ti—”

“Harus mau, Haekal. Ayah sudah membuat perjanjian.” ujar Eric—Ayah Haekal dengan suara yang terdengar rendah.

Jean yang tak mengerti situasi, hanya dapat diam ditempatnya. Menatap keributan dari dua keluarga temannya. “Bisa bahan gibah nih.”

Haekal menggelengkan kepalanya, lelaki itu mengeratkan pelukannya pada gadis yang benar-benar telah mengambil hatinya.

“Ekal gak mau. Ayah tega tukar Haekal dengan uang?”

“Demi kehidupan kamu, Haekal.”

Evelyn yang sejak tadi memperhatikan Orelyn langsung menarik lengan Orelyn hingga pelukan terlepas. Gadis itu langsung menggenggam erat tangan Haekal, bahkan Haekal tak bisa lagi menolak sebab tenaga Evelyn yang tiba-tiba saja membesar.

“Orelyn, tidak apa-apa ya?” Jeffryan berdiri dari duduknya, ia mendekati putri bungsunya dengan tatapan yang sangat amat memohon. “Mengalah ya? Kan Papa sudah sering menuruti kemauan kamu. Sekarang tugasnya Papa menuruti kemauan Evelyn. Dia baru datang untuk mencari kehidupan baru dengan keluarga kandungnya. Tidak apa-apa ya?”

Ucapan Jeffryan sungguh membuat Orelyn naik pitam. Gadis itu terkekeh dengan remeh, menghapus air matanya yang dengan lancangnya mengalir begitu saja. Menatap mata sang Papa dengan tatapan yang amat kecewa.

“Sejak kapan Papa nurutin kemauan aku? Aku gak pernah minta apapun tuh. Bahkan dihari ulang tahun aku, aku gak minta apa-apa ke Papa. Karna aku tau, Papa pasti gak akan kasih ke aku. Sejak kecil, sejak aku beranjak dewasa, cuman Mama yang nemenin aku, Pa. Cuman Mama yang rawat aku dan Kak Reyhan dengan penuh ketulusan. Papa kemana? Oh iya, Papa sibuk kerja.”

“Terus, tiba-tiba kemarin Papa pulang, bilang Evelyn itu kembaran aku. Dengan gampangnya Papa kasih semuanya ke dia, PADAHAL PAPA TAU DIA YANG UDAH BULLY AKU! PAPA TAU SEMUANYA! PAPA TAU DIA JAHAT SAMA AKU! PERASAAN PAPA KE AKU UDAH MATI YA?! HAH?! MANA RASA SAYANG PAPA KE AKU?! MANA PA?! DENGAN GAMPANGNYA PAPA KASIH SALAH SATU ORANG YANG BUAT AKU BERTAHAN KE ORANG YANG UDAH BIKIN AKU LUKA! Kalau bukan karna Haekal, aku udah susul Mama, Pa.”

“Orelyn, bukan maksud Papa untuk tidak mengerti kamu. Tapi Papa c—”

“Apa, Pa? Kalau Papa mau kasih Haekal ke Evelyn, silahkan. Artinya Papa kasih kehidupan aku ke Tuhan sekarang.”

Plak-!

Bukan, bukan Jeffryan yang menampar Orelyn. Tetapi Evelyn yang dengan lancangnya menampar gadis yang sedang meluapkan amarahnya sekarang.

“Jaga ucapan lo, Rel! Jangan jadi durhaka!”

“Gue cuman ngeluarin semua keluh kesah gue selama gue hidup. Salah?” suar Orelyn berubah melirih sekarang. Gadis itu sudah tak mampu lagi berteriak karna tenaganya sudah habis untuk berteriak kembali.

“Orelyn, aku gak mau di jodohin. Kamu tenang aja ya? Aku gak mau.”

“Terima, Kal. Percuma kamu tolak. Karna perempuan licik kayak dia, bakalan dapetin kamu dengan cara kotor.” ucapan sinis dari Orelyn berhasil membuat Evelyn bungkam seketika.

Orelyn mengambil tasnya yang berada diatad meja, ia menarik lengan Jean untuk pergi dari restoran yang Papanya sewa. Membawa Jean pergi dari keributan.

“Je, maaf ya? Lo jadi liat ribut-ribut. Hahaha.” Orelyn tertawa dengan hambar. Gadis itu menghapus air matanya saat menuju mobil Jean yang terparkir diparkiran khusu pengunjung.

“Rel.” Jean menahan tangan Orelyn dengan lembut, lelaki itu langsung mendekap tubuh gadis yang sangat rapuh didepannya. Mengusap rambut Orelyn dengan perlahan. “Nangis aja. Lo bukan robot yang gak punya perasaan.” bisik Jean dengan sangat lembut.

Tangis Orelyn pecah begitu saja. Gadis itu mengeratkan pelukannya, bahunya bergetar akibat isakan yang langsung keluar.

Orelyn marah, Orelyn kecewa pada sang Papa. Hari ini, Orelyn benar-benar tak bisa membendung lagi emosinya. Ia tak bisa menahan amarah yang telah ia simpan sejak lama.

Ucapan Orelyn tadi bukan hanya ancaman supaya Jeffryan membatalkan perjodohannya. Namun, Orelyn benar-benar menjadikan patokan Orelyn untuk bertahan.

“Rel, semuanya pasti baik-baik aja. Tapi untuk sekarang, tolong ya? Tolong jadi lemah dulu supaya perasaan lo bisa tenang. Masih ada gue, Rel. Jangan pergi ya? Jangan pergi karna seseorang yang seharusnya lo balas. Gue yakin, lo bisa dapetin semua yang lo punya suatu saat nanti.”