Kewajiban yang dipaksa.

Dengan terpaksa Kayna membuka kunci pintu kamarnya, ia membuka pintu dengan perlahan. Seperti takut ketauan jika ia berhasil keluar. Langkah kakinya dengan takut menuntun dirinya kebawah, menuju pintu utama yang sejak tadi di gedor dengan kencang oleh Mahesa.

Tangannya memegang gagang pintu dengan perasaan takut. Kayna membuka pintunya dengan perlahan, belum sampai pintu itu terbuka setelah, Mahesa sudah lebih dulu jatuh dan menubruk tubuh Kayna.

“Esa.” gumam Mahesa sambil tertawa pelan.

Kayna berusaha mendorong tubuh Mahesa, membantu lelaki itu bangun dari jatuhnya. Menuntun Mahesa untuk ke kamar dan melepaskan jasnya yang sangat bau alkohol.

“Esa. Saya rindu kamu.”

Mahesa memegang tangan Kayna dengan kesadaran sehatnya sudah tidak ada. Kayna ingin melepaskan genggaman tersebut namun Mahesa dengan cepat menarik Kayna hingga Kayna jatuh diatas tubuh Mahesa.

Kayna menahan nafasnya, dapat ia lihat dengan jelas wajah dan juga mata sayu milik Mahesa. Karna jarak wajah mereka tidak sampai satu jengkal. Gadis itu ingin menjauh dari Mahesa, namun lagi-lagi ia kalah cepat dengan tangan kekar Mahesa yang sudah lebih dulu memeluk pinggangnya dengan erat.

“M-mas...” Kayna menatap takut kearah Mahesa.

Mahesa tersenyum, ia membalik tubuh Kayna yang sekarang berada dibawah kukungannya. Setelah itu mereka melakukan kewajiban suami istri dengan Kayna yang harus menahan sakit hati karna Mahesa terus menyebutkan nama Esa.