Kuncir rambut.
Suasana malam dengan dinginnya angin yang berhembus dengan kencang membuat rambut Athaya yang tergerai terus berterbangan. Rambut pendek tipis itu sesekali mengganggu pengelihatan Athaya yang sedang menulis jawaban dari soal fisika. Bahkan Athaya terus saja menyelipkan rambutnya kebelakang telinga.
Gema yang memperhatikan gadisnya memutuskan untuk bangkit dari duduknya. Lelaki itu menyatukan seluruh rambut Athaya, menguncir rambut gadisnya dengan gelang karet yang ia selalu bawa di pergelangan tangannya.
“Kasian mata kamu nanti kelilipan ujung rambut. Kan sakit, kalo sakit nanti nangis, kalo nangis aku harus peluk kamu dong?” Ujar Gema membuat gadisnya dengan reflek memukul lelaki itu.
Gema terkekeh, tangan kanannya ia gunakan untuk mengacak rambut Athaya yang sudah terikat.
“Belajar yang bener. Kalo gak bisa tanya aku. Kamu punya aku, kakak kelas sekaligus pacar kamu. Aku pasti bantu.”
Tindakan Gema berhasil membuat Athaya membeku, gadis itu tersipu karna ucapan manis yang diberikan oleh pacarnya.
“Makasih ya, kak. Kalo aku kesusahan aku bakalan minta bantuan kak Gema.” Balas Athaya sambil tersenyum.
Gema membalas senyuman itu, ia kembali duduk seperti awal.
“Besok kamu rambutnya dikuncir ya, kalo gak mau di catok aja biar rapih. Jangan bawa make up, atributnya harus lengkap. Kotak bekal biar ngurangin sampah plastik. Besok gak ada razia, tapi biar kamu lebih rapih dan disiplin. Satu lagi, jangan telat. Kalo kamu telat aku serahin kamu ke osis lain.”
Ucapan Gema membuat Athaya mendengus kesal. Baru beberapa detik yang lalu ia tersipu karna perlakuan Gema, sekarang harus dibanting dengan kenyataan bahwa Gema adalah murid dan ketua osis yang paling disiplin. Sangat bertolak belakang dengan dirinya.