Last night.
—
Raka membawa gitar yang berhasil ia pinjam dari salah satu pengunjung pantai. Lelaki itu duduk di hadapan Gina yang baru selesai memakan mie instan.
“Aku ada satu lagu buat kamu. Tapi kamu jangan nangis, aku lagi suka lagu ini.” Ujar Raka. Gina mengangguk, perempuan itu memeluk kedua lututnya, memperhatikan Raka yang mulai memetikan senar gitar.
“All i ask is if This is my last night with you Hold me like i'm more than just a friend Give me a memory I can use Take me by the hand while we do what lovers do It matters how this ends 'Cause what if I never love again?”
Tanpa sadar air mata Raka keluar dengan sekejap. Lelaki itu terus memikirkan bagaimana dirinya tanpa Gina, tanpa ada Gina di sisinya. Lelaki itu tak siap jika harus meninggalkan luka untuk Gina.
Dan Raka tak siap menciptakan Luka untuk dirinya sendiri.
“Malah kamu yang nangis.” Gina terkekeh, walau jauh di lubuk hatinya ia menangis kencang.
Gina tau betul arti dari lagu ini. Tak mungkin Raka menyanyikan lagu ini tanpa alasan.
“Cup cup cup.” Gina memeluk Raka, lelaki itu semakin terisak di dalam pelukan Gina. Sesak, dadanya sangat sesak saat mengingat hari esok ia sudah tak bersama Gina lagi.
“Pacar aku cengeng ya.” Gina terkekeh, walau nyatanya air mata itu keluar dengan perlahan. Tetapi bibir gadis itu tersenyum, tak ingin ikut menangis disaat Raka seperti ini.
“Udah dong nangisnya. Aku disini, sayang.” Ujar gadis itu.
Raka mengeratkan pelukannya, berharap Tuhan memperlambat waktu ia dengan Gina. Raka ingin menghabiskan waktunya dengan Gina lebih lama lagi. Ia tak siap jika pagi hari tak ada sapaan selamat pagi dari Gina.
“Gina, jangan tinggalin aku.” Ujar Raka di sela isakannya.
Gina mengusap punggung Raka, ia sangat menyayangi Raka namun ia tak bisa hidup bersama Raka.
Mereka berdua, sama-sama di jodohkan.
©dya230221