Mama dan Papa

Bibir Elena tak henti-hentinya tersenyum saat Mama menyuapi sop ayam yang dibawakan Akala. Hatinya terasa hangat saat Papa mengusap rambut miliknya.

“Makan yang banyak ya, sayang.” Ujar Mama sambil tersenyum.

Senyuman Elena semakin melebar. Gadis itu senang. Bahkan sangat senang. Sebuah kenyataan pahit sekaligus manis namun tidak terlalu buruk untuknya.

“Mama, maaf ya? Elena hadir dikehidupan kalian waktu Elena lumpuh kayak sekarang.” Ujar Elena.

Mama menggeleng, membantah ucapan sang anak perempuannya.

“Nggak, sayang. Kamu hadir dikehidupan Mama sejak kamu lahir. Mama gak perduli bagaimana kondisi kamu. Yang jelas kamu kembali itu udah cukup buat Mama senang.”

“Papa setuju sama Mama. Sejak dulu Papa selalu menyuruh orang untuk mencari kamu dimanapun. Tapi semuanya nihil karna kami gak pernah kasih barang yang bisa menandai bahwa itu kamu.”

Elena tersenyum kembali. Ia merasa wanita beruntung sekarang. Mendapat kedua orang tua yang sangat sayang kepadanya dan juga mendapatkan kakak yang perduli kepadanya.

Dari luar, Akala ikut tersenyum. Ia bahagia melihat gadisnya tersenyum kembali. Dan ia juga bahagia melihat gadisnya kembali lagi kepada dirinya.

Tugas Akala hanya satu sekarang. Mencari keberadaan Maura dan memenjarakan gadis itu.

©dya060421