Marah

Ayyara berjalan dibelakang Bintang dengan perasaan takut. Ia takut Bryan marah karna Ayyara memakai dress lain. Ia takut Sabiru kecewa karna Ayyara tidam memakai dress yang di berikannya. Dan ia takut Naura akan mengadu pada sang Papa.

“Ay, lo tenang aja. Papa lo gak mungkin marah.” ujar Bintang berusaha menenangkan.

Ayyara tak menjawab. Gadis itu semakin meremas lengan Bintang saat mereka sudah di ruang ganti pengantin.

“Permisi.” Bintang mengetuk pintu dua kali. Bryan yang sedang membenarkan Tuxedonya lantas menoleh, diikuti Naura yang sedang bermain ponselnya. Gadis itu tersenyum miring.

“Kok lo gak pakai dress yang dikasih Bunda?” tanya Naura mendekati Ayyara.

Ayyara tak menjawab. Gadis itu semakin takut saat Bryan memandanginya dari ujung kepala hingga ujung kaki.

“Ay? Kenapa gak pakai dress itu?” tanya Bryan dengan wajah dingin.

“D-dressnya dirusakin kak Naura.” jawab Ayyara dengan jujur.

Namun Naura langsung menggeleng, membantah ucapan Ayyara.

“Nggak! Lo jangan fitnah. Ngapain gue gunting? Itu dari Bunda, udah di pesen jauh-jauh hari dan motifnya spesial. Buat apa gue gunting pemberian Bunda? Gak masuk akal.” bantah Naura. Lagi-lagi gadis itu tersenyum sinis secara samar.

Bintang memandangi Naura dengan tajam. Gadis cantik dengan hati iblis membuat Bintang merasa kesal disana.

“Ayya, sejak kapan berani bohong sama papa? Siapa yang ngajarin Ayya bohong? Jangan buat Papa kecewa, Ayyara.” lagi, Bryan berucap semakin dingin membuat Ayyara meneguk ludahnya dengan kasar.

“Ayya gak bohong, Papa.”

“Ayyara!”

Ayyara tersentak saat Bryan membentaknya. Gadis itu reflek menatap Bryan dengan terkejut. Matanya basah, ia tak bisa dibentak. Ayyara takut dibentak seperti itu. Ini adalah kali pertama Bryan membentak Ayyara.

“Terserah Papa! Ayya udah jujur tapi Papa gak percaya! Ayya marah sama Papa!” teriak gadis itu dengan suara bergetar.

Ayyara langsung keluar dari ruang ganti, meninggalkan Bintang, Naura dan juga Bryan yang terdiam.

“Om berubah. Dan buat lo, Naura. Makasih fitnahnya buat Ayyara.”