Marah

Satya memandangi jalanan yang ramai dari atap sekolahnya. Wajah lelaki itu terlihat marah setelah memberi beberapa pesan untuk Marvel. Satya merasa sangat marah saat Marvel dengan gampangnya mengatai dirinya 'anak tak punya etika.'

“Lagian siapa yang pernah ngajarin gue soal etika? Mama atau Papa juga gak ada yang ngajarin.” gumam Satya sambil terkekeh miris.

Lelaki itu menunduk, nafasnya berubah memburu karna emosi yang meluap. Satya sangat tidak suka jika urusannya dicampuri orang lain yang sangat sok tahu tentang dirinya.

Dada lelaki itu berubah nyeri secara tiba-tiba. Satya memegangi dadanya, berharap rasa nyeri itu hilang saat ia merematnya. Namun sialnya, dada Satya semakin sakit sekarang.

Satya merogoh saki celananya. Berusaha mengambil obat pereda sakit secara cepat. Menuang beberapa pil ke tangannya dan langsung meminumnya tanpa air putih yang ada.

Nafas lelaki itu memburu, bukan karna emosi tetapi karna Satya lelah menahan rasa nyeri. Walau rasanya perlahan hilang karna pengaruh obat yang ia minum beberapa menit yang lalu.

“Satya, lo gak boleh nyerah. Sekarang Mama sama Papa udah mulai baik sama lo. Tinggal tunggu waktunya mereka mau peluk lo. Dan setelah itu lo boleh pergi sejauh mungkin karna mimpi lo udah tergapai.”

Gumam Satya lalu membaringkan badannya.