Marah.

Darma langsung masuk kedalam rumah setelah ia sampai. Matanya menatap bingung Almara yang duduk sofa sambil memandangi mie rebus yang sudah mulai mendingin.

“Al? Ngapain disini?” tanya Darma mendekati Almara.

Almara menoleh, menatap Darma dan dingin dan juga rahan yang mengeras. Tangannya melempar ponsel yang menyala kemeja didepannya. Darma melirik kearah ponsel Almara, lelaki itu mengambil ponsel tersebut dan membaca pesan yang tertera.

Mata Darma membulat. Sekarang ia paham mengapa Almara menatapnya seperti itu. Ini karna kesalah pahaman yang telah Almara terima bulat-bulat.

“Al, gue enggak-”

“Dar, lo tau kan pernikahan itu suatu hubungan yang bukan main-main? Lo udah ucapin janji diatas pernikahan kita, lo udah ucapin janji di depan orang tua gue. Dan lo sekarang langgar janji itu semua?”

Almara berdiri, ia berjalan mendekati Darma yang mematung di tempat.

“Al, ini salah paham. Gue nggak punya pacar. Gue nggak-”

Plak-!

Satu tamparan mendarat mulus di pipi Darma. Emosi Almara sudah berada di puncaknya. Almara sudah merasa dikhianati oleh Darma.

“GUE TAU PERNIKAHAN KITA SEBATAS PERJODOHAN! GUE TAU PERNIKAHAN KITA SEBATAS KECEROBOHAN GUE! GUE TAU—”

“Iya! Ini semua karna kesalahan lo, Ra! Puas?! Lo yang bikin kita jadi satu atap! Lo yang bikin kata 'kita' jadi ada! Lo yang bikin gue ucapin semua janji itu! Pernikahan kita sebatas paksaan dari kedua orang tua kita!”

Emosi Darma ikut pecah. Lelaki menatap Almara dengan tatapan tajam. Nafasnya memburu seakan akan ia ingin menghajar sesuatu yang ada di sekitarnya.

“Makasih, Dar. Makasih karna lo udah mau jujur.” ujar Almara dengan lirih.

Gadis itu langsung memasuki kamar dengan air mata yang mengalir. Almara mengunci pintu, tubuhnya langsung jatuh ke lantai. Tangisnya pecah begitu saja. Baru hari kedua pernikahannya namun begitu menyakitkan untuknya.

Sedangkan Darma diluar terdiam. Menatap pintu kamar Almara yang terkunci rapat dengan pandangan bersalah. Dirinya merasa bodoh telah mengucapkan sesuatu yang dapat menyakiti Almara.

“Bangsat! Gue bodoh banget anjing!”