Masakan Bunda.

Suara bel rumah keluarga Amdero terdengar dengan kencang. Angkasa keluar kamarnya, kakinya ia gerakan kearah pintu utama. Yang Angkasa yakin itu adalah Alingga.

Tangannya membuka pintu utama, matanya langsung menangkap Alingga yang berdiri sambil memegang piring yang ditutupi oleh tissue.

“Lo? Ngapain kesini?” tanya Angkasa bingung.

Alingga tersenyum tipis, ia mengangkat piringnya yang ia bawa.

“Gue bawa bakwan jagung. Lo mau gak? Tadi bunda gue masak.” ujar Alingga.

Angkasa terdiam sejenak. Namun dengan reflek ia mundur untuk mempersilahkan Alingga masuk.

“Thank you. Gue pegel berdiri soalnya.” ujar Alingga masuk kedalam rumah Angkasa.

Gadis itu berjalan keruang makan. Menaruh piringnya dan mengambil tissue yang menutupi bakwan jagung yang ia bawa.

“Cobain deh.” Alingga mengambil satu bakwan, gadis itu langsung memakan bakwan itu tanpa menunggu Angkasa.

Angkasa terdiam memperhatikan Alingga yang tersenyum setelah melahap bakwan yang ia bawa. Terlihat enak dan membuat dirinya lapar.

“Ini, makan sebelum dingin bakwannya.” Ujar Alingga. Angkasa mengambil satu bakwan tersebut, ia memakan bakwan tersebut dengan dalam satu suapan, membuat Alingga membulatkan matanya.

“Kok bisa?!” ucap Alingga dengan terkejut. Gadis itu mengambil satu bakwan utuh, ingin mencoba memakan bakwan tersebut namun sayangnya mulutnya tidak selebar mulut Angkasa.

“Ck, gak bisa.”

Angkasa tersenyum tipis, senyuman yang tidak bisa Alingga lihat karna mulut yang masih sibuk mengunyah bakwan.

Ternyata Alingga semenyenangkan itu untuk Angkasa ajak berbicara. Alingga tidak cuek yang seperti Angkasa fikirkan. Bahkan Angkasa sempat terkejut karna Alingga suka melakukan kegiatan amal setiap hari Jum'at.

Dan yang membuat Angkasa lebih terkejut, Alingga dapat membuat dirinya nyaman saat berada didekat gadis itu.