Mempertahankan
Satya keluar dari kamarnya setelah mendengar suara ribut dari dapur. Lelaki itu berfikir bahwa semuanya telah kembali karna suara yang sangat ramai. Namun saat Satya turun dari lantai atas ia melihat lelaki dengan penutup wajah sibuk mencari barang didapur.
“Siapa lo?!” tanya Satya dengan kencang walau lelaki itu sedikit takut.
Lelaki bertopeng itu menoleh, ia langsung berlari menuju kamar Kiara dan Jeffryan namun Satya menahannya lebih dulu.
“Lo mau ngapain?! Jangan masuk ke kamar orang tua gue!” ujar Satya dengan marah. Ia berusaha menghalangi orang bertopeng itu untuk masuk.
“Keluar atau lo gue laporin ke polisi?!” ancam Satya membuat orang bertopeng itu langsung diam.
Dengan cepat tangan Satya menarik topeng itu. Menampilkan wajah Tio dengan smirk andalannya.
“Lo?”
“Nice to meet you, Prasatya. Apa kabar?” tanya Tio dengan nada mengejeknya.
“Mau apa lo?”
“Mau...mau ambil surat tanah yang sekarang jadi butik nyokap lo. Ada didalem kamar kan pasti? Jadi lo mending minggir sebelum gue yang nyingkirin lo.”
Tangan Satya terkepal dengan kuat. Dengan reflek tangan itu menarik kerah baju milik Tio. “Lo boleh ambil apapun barang milik gue tapi jangan punya nyokap atau bokap gue!”
“Oh, lo mau jadi pahlawan ya? Sayangnya pahlawan nyokap lo harus gugur sekarang.”
Secara diam-diam, Tio menyelipkan pisau kecil ditangannya. Dengan cepat tangan Tio menancapkan pisau tersebut ke perut Satya.
Hingga cengkraman pada kerah baju Tio melonggar. Kaki Satya berubah lemas dan juga perutnya yang semakin sakit. Satya jatuh kelantai, memegangi perutnya yang penuh darah dengan tangan gemetar.
“Sorry, gak sengaja.” Tio terkekeh dengan puas. Ia ingin berjalan ke depan kamar Kiara namun ditahan oleh tangan Satya dengan sisa tenaganya.
“J-jangan barang nyo-nyokap gue.”
Satya berucap susah payah. Namun dengan kejinya Tio menendang tangan Satya hingga tangan Satya lepas dari kakinya.
Perlahan pandangan Satya terlihat buram. Yang hanya dapat Satya lihat adalah Tio yang sibuk mengotak atik pintu supaya terbuka. Namun sialnya Satya tak bisa berbuat banyak.
Rasa sakit diperutnya seakan mematikan semua saraf kerjanya. Membuat Satya tak bisa berkutik sama sekali.
“J-jangan.” Dan perlahan rasa sakit itu berhasil merenggut kesadarannya.