IMY

Sejak tadi, fokus Kara sudah tidak bisa di kontrol. Gadis itu tidak bisa mengikuti perintah Geano. Dengan satu alasan, Jevan menjadi pendampingnya.

“Aletta! Ayo fokus!” teriak Geano dengan kesal.

Kara mengangguk, gadis itu membuang nafasnya berkali-kali. Berusaha menghilangkan rasa takut yang sudah menjalar.

“Sorry, sir.”

“Ayo dong. Peluk leher Pak Jevan, terus saling tatap. Saya gak mau hari ini berantakan.” ujar Geano yang sudah mulai kesal.

Kara membalikan badannya, matanya memilih untuk menunduk, sedangkan tangannya masih diam dalam keraguan.

“Aletta!” teriak Geano.

Kara tak menjawab apapun, tangannya dengan perlahan mengangkat untuk memeluk Jevan. Dengan cepat Jevan membantu tangan Kara untuk melingkar di lehernya.

“Ra, kamu bisa. Anggap aku orang asing buat kamu.” bisik lelaki itu sambil memperhatikan Kara yang masih menunduk.

“Kara...

Suara lembut Jevan berhasil membuat pandangan Kara terangkat perlahan. Gadis itu menatap mata sipit Jevan yang sedikit menghitam. Bisa Kara tebak, Jevan tidak banyak istirahat.

“J-jev...”

“I miss you.”

“I really miss you, Karana.”

Jevan tersenyum tipis, lelaki itu memeluk pinggang Kara dengan erat. Ingin sekali Kara membalas kalau ia juga merindukan Jevan, namun rasa takutnya sekarang lebih mendominasi.

“Kara, bisa kita bicara nanti?”