Menyerah
Langit malam dengan bulan sabit dan juga banyaknya bintang-bintang kecil membuat lelaki dengan rambut yang sedikit panjang itu semakin betah memandangi langit dari balkon kamar kosnya.
Satya, lelaki dengan seribu pikiran yang berkecamuk membuatnya tak bisa banyak berkutik. Merasa sangat berat tubuhnya hanya untuk berdiri untuk memasuki kamar. Rasanya semua masalah yang semakin menjadi belakangan ini membuat lelaki itu sangat berat menjalankan hari-harinya.
Tangan lelaki itu dengan perlahan merogoh saku kemejanya. Mengambil sebungkus rokok yang ia bawa dan juga korek gas yang selalu Satya bawa. Menurut Satya, lelaki itu butuh penenang untuk malam ini.
Jari telunjuk dan jari tengahnya ia selipkan sebatang rokok, dan menahan ujung coklat rokok itu di bibirnya. Tangan kanannya menyalakan pemantik, lalu apinya ia dekatkan keujung rokok hingga terbakar dan mengeluarkan asap.
Tanpa memikirkan kesehatannya, Satya tetap menghisap rokok itu dan terus mengelurkan asap lewat hidung dan juga mulutnya. Sesekali lelaki itu terbatuk disertai rasa nyeri yang perlahan muncul didadanya. Namun Satya tidak perduli dengan rasa sakitnya.
Rasanya tak sebanding dengan perasaannya yang dibanting kembali oleh sang Kakak. Marvel berhasil menghancurkan rasa percayanya. Marvel telah berhasil menghancurkan semua harapannya.
“Hahaha, sialan.” gumam lelaki itu sambil tertawa hambar.
Satya merogoh saku celanya, mengambil sebuah cutter kecil yang masih terlihat baru. Lelaki itu memandangi cutternya lalu memainkannya dengan cara diputar.
Matanya kembali memandangi langit yang perlahan mendung. Yang ada didalam pikirannya saat ini adalah pergi untuk ketenangan. Mungkin jika Satya pergi, semua keluarganya akan merasa bebas dari beban.
“Gak ada yang perduli lagi kan sekarang? Percuma gue ada.” gumam lelaki itu sambil mengeluarkan pisau cutternya.
Dengan perlahan Satya mengukir lengannya dengan ujung cutter yang tajam. Namun wajahnya sama sekali tidak menyiratkan kesakitan. Rasanya Satya telah mati rasa diseluruh tubuhnya.
Semakin lama, semakin banyak darah yang keluar dari lengan Satya. Lelaki itu tersenyum puas saat ia berhasil mengukir sebuah kalimat Mati. Lalu yang terakhir, lelaki itu langsung menggores ujung lengannya hingga semakin banyak darah yang keluar.
Satya tersenyum, dengan perlahan nafasnya merasa tercekat. Dadanya semakin nyeri hingga Satya merasa tidak ada lagi oksigen yang dapat berhasil untuk masuk.
Satya menyerah sekarang. Menyerah akan kehidupan yang sangat tidak adil untuknya dan menyerah karna tak ada lagi alasan untuk ia mempertahankan hidupnya.