Menyerah

Narendra terduduk lemas di gudang yang sekarang menjadi tempat istirahatnya. Air matanya mengalit saat tau satu kenyataan pahit yang tidak pernah ia fikirkan. Kenyataan bahwa ia adalah anak yang di buang dan di pungut oleh Jo.

Sakit. Hati Narendra sangat sakit sekarang. Lebih sakit dari permainan tangan Jo selama ini. Demi apapun, Narendra ingin menyerah pada kehidupan. Tak sanggup bertahan jika harus hidup dengan di selimuti pahit dan kekejian dari sang Papa angkatnya.

Sekarang ia tau, mengapa Johnny sangat marah setelah kecelakaan itu. Sekarang ia tau semua alasannya. Dan alasan itu yang membuat Narendra ingin menyerah.


Narendra terbangun saat pintu kamarnya di buka dengan kasar. Kesadarannya belum sepenuhnya penuh namun tangan Johnny sudah menyeret Narendra ke lantai.

Kembali, tangan Jo kembali terulur untuk melukai anaknya. Johnny kembali meluapkan amarah kepada anak angkatnya itu.

Yang Narendra lakukan hanya diam. Tubuhnya seakan mati rasa kepada luka. Tak dapat lagi tubuh itu merasakan sebuah sentuhan. Bahkan matanya tak dapat lagi mengeluarkan air mata. Semua kenyataan itu membuatnya ia mati rasa. Melupakan bagaimana rasanya di sentuh dan juga di perlakukan kasar.

Matanya terpejam saat Johnny menginjak dadanya dengan kuat. Pasukan oksigen yang ia rasa langsung berkurang dengan banyak. Ia tak bisa bernafas, tetap Narendra tetap diam. Membiarkan nafas terakhirnya di renggut oleh Papanya.

Narendra ingin beristirahat, Narendra ingin kembali merasakan damainya kehidupan, Narendra sudah lelah sekarang. Narendra memilih menyerah, memilih untuk diam dikala malaikat mencabut seluruh pasukan oksigennya. Merasakan sakit saat sekujur tubuhnya tak bisa merasakan kembali oksigen yang di berikan tuhan.

Perlahan mata itu terpejam, dibawah kekerasan sang papa yang di lakukan.