Miss You
—
Akala terus menggenggam tangan Elena. Rasanya ia enggan untuk melepaskan genggamannya itu. Ia tidak mau disaat Elena bangun ia tidak ada disamping Elena.
Akala menyesal. Menyesal karna tidak ia turuti kemauan gadisnya. Seharusnya ia menjemput Elena siang itu, tidak membiarkan Elena jalan sendirian. Seharusnya ia memilih Elena dibandingkan Maura. Akala bodoh. Akala telah di butakan dengan kata sahabat .
“Elena, maaf.” Ujar Akala. Lelaki itu mencium punggung tangan Elena yang tidak diinfus.
“Elena, aku kangen. Bangun ya? Aku minta maaf.” Ujar Akala lagi.
Lelaki itu menunduk, menahan untuk tidak menangis. Ia tidak ingin terlihat lemah dihadapan Elena. Walaupun gadis itu sedang berada di alam bawah sadarnya.
Kepalanya menoleh disaat pintu terbuka. Rico masuk sambil membawa kotak makanan.
“Makan dulu, Kal. Baru lanjut jagain. Gantian gue.” Ujar Rico.
Akala menatap Rico tanpa berekspresi. Masih tidak percaya bahwa Rico adalah abang kandung dari Elena. Semuanya masih belum bisa ia percaya secara cuma-cuma.
“Cepet makan. Gak gue restuin lo sama adik gue.”
Akal berdiri, ia mengecup kening Elena sebelum menghampiri Rico untuk mengambil makanannya.
“Gue makan disini.” Ucap Akala membawa makanan tersebut dan duduk disofa.
Rico tak menjawab, ia lebih memilih untuk duduk dikursi samping ranjang Elena. Tangannya menggenggam tangan perempuan yang ternyata adalah adiknya.
“Elena, bangun ya? Nanti gue kasih tau mama papa kalau anak perempuannya ada sama gue.” Ucap Rico dengan suara pelan.
Rico mengecup punggung tangan Elena, berharap adiknya itu segera bangun dan memeluknya. Ia ingin membahas tentang Tulus lebih lama. Rico ingin menghabiskan waktu dengan Elena lebih lama.
©dya030421