Pacaran?
—
Ayyara terus menghapus air matanya yang tak kunjung reda. Ia ingin menangis kencang, tetapi dirinya masih memiliki malu karna taman yang cukup ramai.
Sekali lagi ia membaca pesannya dengan sabiru. Ayyara akui bahwa ia sangat kasar kepada gadis yang lebih tua darinya. Tetapi Ayyara sudah tidak tahan lagi. Ia tak mau berdamai dengan seseorang yang merebut kebahagiaan Bundanya.
“Ayya.”
Suara berat seseorang yang sangat Ayyara kenali membuat dirinya langsung menoleh. Gadis itu langsung terisak kecil saat Bintang memeluk tubuhnya dengan erat. Menangis sejadi-jadinya, tidak perduli dengan orang sekitar karna sudah ada Bintang yang melindunginya sekarang.
“Bintang...” suara Ayya terdengar gemetar.
Bintang mengusap punggung Ayyara. Membiarkan gadis itu melampiaskan seluruh emosi kepada dirinya. Ia tak bisa membiarkan Ayyara memendam masalahnya sendirian.
“Bintang, jangan tinggalin Ayya sendirian.”
“Gue disini, Ay. Gue sama lo. Tatap gue.”
Bintang menangkup pipi Ayyara agar gadis itu menatapnya. Mata Ayyara terlihat sembab dan sedikit hitam, lalu dengan cepat Bintang mencium kedua mata Ayyara.
“Mata lo kayak panda. Sebentar lagi lo berubah jadi panda.” Bintang tersenyum saat melihat wajah kesal Ayyara.
Gadis itu langsung memukul lengan Bintang dengan kencang.
“Aw. Sakit, Ay. Kenapa dipukul? Mending cium aja sini.” Bintang menunjuk pipinya dengan telunjuk.
Ayyara memperhatikan gerak gerik Bintang. Entah mengapa jantung gadis itu berdegup dengan kencang dan juga pipi yang memerah. Bahkan ia menjadi salah tingkah saat melihat kelakuan Bintang.
“A-apaan sih?!” Ayyara menghapus air matanya. Mengalihkan pandangan supaya Bintang tak melihat wajah merahnya.
“Ay.”
“Apa?”
“Pacaran mau?”
Ayyara dengan reflek menoleh. Menatap mata Bintang yang terlihat sangat serius.
“Ay, gue gak tau perasaan lo gimana ke gue. Tapi perasaan gue ke lo itu lebih dari sekedar sahabat.”
Bintang terdiam sejenak. Menarik nafas perlahan sebelum melanjutkan ucapannya.
“Gue awalnya gak berani ungkapin rasa gue ke lo. Karna gue tau, hidup gue gak bisa menua karna penyakit ini. Tapi gue beraniin diri buat ungkap rasa gue ke lo. Karna gue percaya, Tuhan kasih gue hidup lebih lama supaya gue bisa jujur ke lo. Lo gak perlu balas perasaan gue. Gue gak masalah kalau lo nolak gue. Disini gue cuman ma—”
“Ayo.”
“Ha?”
“Ayo pacaran. Ayya udah besar, jadi boleh pacaran. Lagian Papa udah gak perduli sama Ayya. Jadi harusnya boleh kan Ayya pacaran sama Bintang?”
Bintang terdiam dengan wajah yang tidak dapat di kondisikan. Ia masih berusaha mencerna ucapan Ayyara. Apa gadis itu menerima tawarannya?
“Ay, lo mau jadi pacar gue?”
“Mau. Ayya terus deg deg an kalo deket Bintang. Pipi Ayya merah terus kalo diledekin Bintang. Ayya juga nyaman deket sama Bintang.”
Bintang tersenyum senang. Lelaki itu langsung memeluk Ayyara dengan erat.
“Makasih, Sayang.