Pagi
Narendra, lelaki manis menurut Raden dan juga Papanya. Panggilan Nana adalah panggilan khusus dari Papa dan juga kakaknya. Narendra pasti akan marah jika ada orang lain yang juga memanggilnya Nana.
“Nana, udah minum obatnya?” Tanya Jo—papanya.
Narendra mengangguk, memakan dengan lahap telur rebus dan juga sup buatan kakaknya.
“Bang, nanti kamu temenin terus ya si Nana. Kamu juga pegang obatnya. Jaga-jaga kalau Nana ceroboh.”
“Iya, Pa.” Jawab Raden. Lelaki itu tersenyum. Ia sangat suka kehangatan di pagi hari.
“Pa, aku bukan anak kecil lagi.”
“Tapi kamu kan baru pertama kali masuk lingkungan umum. Wajar kalau Papa khawatir.”
“Tapi, pa—”
“Apa mau kamu homeschooling lagi?”
Narendra menghela nafas pelan. Jika ancamannya seperti itu ia sudah tak bisa berbuat banyak.
Dari kecil Narendra ingin sekali bermain jauh keluar rumah, Narendra ingin sekali bersekolah dan bermain dengan teman-temannya. Namun nyatanya, ia hanya bisa terkurung di dalam rumah yang terbilang mewah. Bukan karna Papanya jahat, namun karna kondisi jantungnya yang bisa saja membuat dirinya jatuh dan terpaksa kembali ke rumah sakit. Dan tentu Narendra sangat tidak suka itu.
Dan saat ia mendapat kesempatan untuk memasuki lingkungan umum, wajahnya tak bisa berbohong. Ia sangat senang mendapat izin tersebut dari Papanya. Memasuki Universitas yang sama dengan Kakaknya adalah kesenangan yang mungkin tak akan ia lupakan.