Papa dan sikap dinginnya.

Pukul 10.00 malam adalah waktu untuk Jian belajar. Namun karna lelaki itu sudah tamat sekolah, Jian lebih memilih untuk mengelilingi kotak Jakarta yang sedikit padat saat malam hari.

Matanya terfokus pada jalan raya yang kanan dan kirinya terdapat banyak makanan dan restoran. Jian memarkiran motornya disalah satu resto ikan kesukaannya. Melepaskan helmnya dan berjalan masuk kedalam. Mencari tempat duduk yang nyaman untuk dia tempati sendiri.

Saat langkahnya ingin berjalan pada lantai dua, matanya menangkap sang Papa yang menuruni tangga. Dengan reflek langkah kaki itu terhenti pada anak tangga pertama.

Jian kira Jeffryan akan memanggil dirinya, Jian kira Jeffryan akan menanyakan perihal hari kelulusannya. Namun pikirannya salah besar.

Jeffryan langsung pergi mengabaikan Jian. Membiarkan anak semata wayangnya itu mematung di anak tangga pertama. Meninggalkan rasa kebingungan yang sangat besar untuk Jian.

Seharusnya Jian senang kan? Seharusnya Jian bahagia bukan? Tapi ada perasaan yang mengganjal dirinya. Perasaan yang tak bisa Jian artikan dalam waktu dekat.