Pelukan yang diharapkan.
Suara langkah kaki yang menggema pada lantai 12 di kantor milik Atma membuat beberapa orang yang sedang bekerja mengalihkan perhatiannya pada perempuan muda yang memiliki postur tubuh yang sangat bagus. Tentu sangat menggoda untuk para lelaki yang bekerja.
Namanya Anindhita Buana. Istri dari Atma Bagaskara yang sangat di kenal dengan sifat acuhnya. Tak perduli seberapa sayang Atma kepada dirinya. Perempuan itu sama sekali tidak pernah membalas love language dari suaminya.
Langkah Anindhita terhenti didepan ruang kerja milik Atma. Perempuan itu mengangkat tangannya sembari di kepalkan, mengetuk pintu ruangan beberapa kali hingga terdengar suara dari dalam. Anindhita membukakan pintunya, menatap sang suami yang terfokus dengan laptop serta berkas yang berantakan.
Perempuan itu melangkah mendekati Atma yang sempat membenarkan posisi kacamatanya. Atma menoleh, lelaki itu menoreh senyuman yang sangat lebar dan cerah. Mengulurkan tangan untuk memeluk Anindhita, namun gadis itu malah memberi berkasnya secara kasar.
“Anin?”
“Saya tidak ada waktu untuk berpelukan dengan kamu, Atma. Pekerjaan saya tertunda akibat kecerobohan kamu.” ujar Anindhita dengan sangat dingin dan datar.
Perempuan itu ingin melangkah pergi, namun pergelangan tangannya ditahan oleh Atma yang sangat mengharapkan pelukan dari sang istri.
“Sebentar saja, Anin. Saya janji.” ujar Atma dengan suara yang lirih. Lelaki itu sangat memohon kepada istrinya. Pelukan setiap pagi yang selalu Atma dambakan sejak dulu.
“Saya tidak ada waktu. Lain kali jangan ceroboh seperti itu.” Anindhita menepis tangan Atma dengan kasar. Langkahnya membawa dirinya pergi meninggalkan Atma yang terdiam di tempat.
Jari jemari milik Atma terkepal dengan perlahan. Bukan Atma marah, namun lelaki itu merasakan sakit hati yang luar biasa. Sudah beberapa kali ia merasakan, namun rasanya tak pernah berubah. Sakit seperti biasanya.
Lelaki itu hanya menginginkan pelukan hangat pada pagi hari. Lelaki itu hanya menginginkan kehangatan yang diberikan oleh sang istri setiap pulangnya. Bukan kalimat pedas dan dingin yang selalu keluar dari bibir Anindhita.
Atma hanya mengharapkan sesuatu yang seorang suami ingin rasakan.