Pelukan yang tak pernah terlepas.

Sedari tadi, Angkasa terus memeluk foto Alingga sambil bersandar pada pada kursi plasti yang tersedia diarea makam. Lelaki itu tak banyak menangis sekarang, tapi diamnya Angkasa membuat saudara kembar dan teman-temannya menatap khawatir.

Langit mendekati Angkasa yang terus menatap awan yang mendung. Enggan menatap proses pemakaman gadisnya. Rasanya terlalu sakit jika Angkasa terus menatap kepergian Alingga.

“Jingga, ayo pulang. Mau hujan, kalau kamu disini terus yang ada kehujanan nanti. Kalau kamu sakit aku yang khawatir. Ayo pulang.” gumam lelaki itu dapat didengar oleh Langit.

Langit berjongkok dihadapan Angkasa. Ingin mengambil foto Alingga namun Angkasa semakin mengeratkan pelukannya pada foto tersebut.

“Jangan sentu Jingga gue, Langit! Urus istri lo sana!” kesal Angkasa membuat perhatian Fariz dan Seano tertuju pada lelaki itu.

Kedua temannya menatap sendu Angkasa yang terlihat tidak dapat mengikhlaskan kepergian Alingga.

“Sa, pulang yuk? Alingga udah dimakamin, Sa. Alingga udah tenang sekarang.” Langit terus berusaha membujuk Angkasa. Walau ucapan Langit dibalas oleh tatapan tajam lelaki itu, tetapi Langit tidak takut sama sekali.

“Gue bakalan pulang kalau Jingga ikut gue, Lang! Gue mau disini! Gue mau nemenin Jingga!” ujar Angkasa dengan amarahnya.

“Angkasa, ikhlasin Jingga ya? Kalau pun Jingga terus disini, pasti Jingga bakalan ngerasa tersiksa karna sakit dari kecelakaan itu. Ikhlasin Jingga ya, Sa?”

Tangis Angkasa kembali pecah setelah mendengar ucapan Langit. Angkasa mengeratkan pelukannya pada bingkai foto Alingga. Kepala lelaki itu menggeleng dengan keras.

Angkasa tidak siap jika Alingga pergi. Angkasa tidak siap jika Alingga meninggalkan dirinya sendirian. Angkasa tak siap jika Jingga kembali pada pelukan sang pencipta. Angkasa tak siap jika harus hidup tanpa cintanya.

Sakit. Satu kata yang dapat menggambarkan perasaannya sekarang. Hidupnya kini kembali abu seperti beberapa tahun lalu. Angkasa kembali kehilangan cintanya. Angkasa kembali kehilangan wanitanya.

Angkasa telah kehilangan Mamanya. Dan sekarang Angkasa harus kehilangan Jingganya.