Pelukan yang tak terbalas.

Jevan memasuki rumah Gracia tanpa permisi. Tak perlu takut jika dimarahi karna Gracia tinggal sendiri. Lebih tepatnya, orang tua Gracia yang sibuk pergi untuk memenuhi kebutuhan keluarga Gracia.

“Cia.” Jevan mendekati Gracia yang sibuk dengan laptop diruang keluarga.

Lelaki itu langsung memeluk Gracia tanpa izin dan tanpa membiarkan Gracia untuk berbicara.

“Jev-”

“Biarin gini, Ci. Gue hari ini cape banget.”

Jevan mengeratkan pelukannya. Membiarkan perempuan itu didekapnya tanpa ada balasan dari Gracia.

“Lo gak mau nanyain keadaan Rara?” Tanya Jevan.

Gracia terdiam sejenak. Melirik Jevan yang sibuk memainkan rambut Gracia seperti biasa. Hal yang membuat Gracia mudah tersipu sehingga menjatuhkan hatinya untuk Jevan.

Tetapi ia harus mundur dikala Jevan menceritakan seorang gadis yang berhasil mengambil hati lelaki itu dengan mudah. Almara Senjani atau yang disapa dengan Rara. Gadis imut dan manja yang berhasil membuat Gracia tersingkirkan dari prioritas Jevan.

“Ci?”

“Oh iya. Gimana keadaan Rara?” Tanya Gracia sedikit tidak rela.

Jevan tersenyum, semakin mengeratkan pelukannya.

“Dia kecapean. Terus dia manja banget sama gue. Gue seneng sama sifat dia.”

Lagi-lagi Gracia terdiam. Merasa tak suka dengan pembahasan Jevan. Tetapi gadis itu tak dapat mengungkapkan kekesalannya. Lagi pula Gracia siapanya Jevan?

Hanya sahabat yang jatuh secara sepihak.