Penjelasan dari Evelyn.

Langkah cepat milik Haekal membawa tubuh lelaki itu menuju kedepan ruang rawat Evelyn dengan cepat. Ia merasa khawatir dengan temannya karna pesan yang penuh dengan huruf yang berantakan yang dikirimkan untuk dirinya. Haekal tau, Jemian adalah laki-laki yang mudah panik dalam suatu keadaan genting.

Mata itu melihat Jemian yang berdiri dihadapan dua orang polisi. Jemian sibuk dengan ponselnya, mengetik sesuatu yang entah dikirimkan ke siapa. Namun sedari tadi, ponsel milik Haekal terus saja bergetar. Lelaki itu langsung mendekati Jemian dengan cepat. Menarik lengan Jemian hingga membuat ponsel Jemian terjatuh karna tersentak.

“Jem, kenapa?” Tanya Haekal dengan perasaan cemas.

Tangan Jemian bergetar dengan hebat, faktor panik yang sudah Jemian alami sejak kecil. Membuat Haekal paham dengan keadaannya. Pasti Jemian mengalami sesuatu yang membuat dirinya cemas.

“Kal, g-gue gak nabrak Evelyn. Demi apapun, gue gak nabrak Evelyn.” Ujar Jemian dengan terbata. Haekal menaikan alisnya, menatap bingung Jemian yang berucap seperti itu.

Matanya menoleh pada kedua polisi yang bertugas menjaga Evelyn. “Maaf, Pak. Kata siapa teman saya menabrak Evelyn?”

“Menurut laporan yang kami terima dari pelaku, satu-satunya saksi mata saat itu. Ia memberitahu kami bahwa nak Jemian yang menabrak nak Evelyn. Bahkan nak Evelyn ingat bagaimana bentuk mobil yang menabraknya.”

“Boleh saya masuk kedalam? Saya ingin bertanya langsung.”

Salah satu polisi tersebut mengangguk. Mereka berdua memberikan jalan untuk Haekal lewati. Lelaki itu menarik lengan Jemian, mengajak Jemian untuk masuk kedalam ruangan Evelyn.

“Jem, tenang. Relax okey?” Bisik Haekal berusaha menenangkan sahabatnya yang masih dalam keadaan panik.

Haekal membuka pintu tersebut, matanya langsung tertuju pada Evelyn yang sedang terpejam. Entah tidur atau hanya untuk menghilangkan rasa bosan.

“Evelyn.” Panggilan dari Haekal langsung membuat Evelyn membuka matanya. Gadis dengan perban di kepalanya itu perlahan bangun dari tidurnya, mencari posisi yang nyaman untuk mengobrol dengan lelaki yang baru saja datang.

“Kenapa?” Tanya Evelyn dengan datar. Bahkan tak ada wajah tertarik lagi kepada Haekal yang berada di hadapannya.

“Maksud lo apa ya? Kenapa nuduh Jemian yang nabrak lo? Jelas-jelas Jemian yang nolongin lo.” Tanya Haekal dengan suara yang rendah. Jemian mendekati Evelyn dengan perlahan, rahang lelaki itu berubah mengeras. Bahkan getaran di tangannya sudah menghilang.

“Gue seharusnya gak nolongin lo. Ngapain lo fitnah gue? Gak tau terima kasih banget.” Ujar Jemian dengan ketusnya.

Evelyn berdecih pelan, ia menatap Jemian dengan tatapan remehnya. “Lo gak mau ngaku? Gue inget kok bentuk mobilnya. Warna biru tua, dan ada coretan merah di depannya.”

Ucapan Evelyn membuat Jemian terdiam. Benar, itu adalah mobil Reon yang ia pakai pada siang itu. Namun bukan ia yang menabrak Evelyn kemarin.

Jemian menatap Haekal dengan tatapan mohonnya. Berharap sahabatnya itu percaya bahwa bukan ia yang menabrak Evelyn. Hanya Haekal harapan satu-satunya saat ini.

“Vel, Jemian gak nabrak lo. Jangan m-”

“Gue bisa aja bebasin Jemian dari hukuman. Asal lo mau nurutin permintaan gue.”

Haekal menaikan sebelah alisnya saat mendengar tuturan dari Evelyn. Gadis itu menatap Haekal dengan sangat lekat hingga membuat Haekal cemas sekarang. Takut jika Evelyn akan berbuat aneh kedepannya.

“Minta bokap lo dan bokap Orelyn buat lepasin tuntutan gue, dan Jemian bakalan bebas dari hukuman. Gimana?”