Penjelasan satu sama lain.

Mobil putih yang ditumpangin oleh dua orang tersebut berhenti pada parkiran minimarket yang sempat Shaka share location beberapa menit yang lalu. Mereka bertiga dapat melihat keberadaan Arasha yang duduk dengan pandangan kosong kearah mie yang sudah dingin.

Pikiran lelaki itu berkecamuk karna semua masalahnya. Dadanya terasa sesak sebab stress yang dialami oleh Arasha. Lelaki itu menghapus air matanya, menarik nafas dalam-dalam untuk menghirup oksigen yang terasa sangat tipis.

“Aras.” panggil seorang perempuan membuat Arasa menoleh kebelakang.

Mama, Aresha dan Aluna berdiri dibelakangnya membuat Arasha menatap bingung.

“Kenapa? Ngapain kalian bertiga disini?” tanya Arasha dengan ketus.

Aresha menghela nafas pelan, dengan keberaniannya ia berjalan kearah kursi kosong. Menduduki dirinya tepat dihadapan Arasha. Sedangkan Mama dan Aluna berada di sisi Arasha.

“Gue mau minta maaf.” ujar Aresha membuat Arasha menaikan sebelah alisnya.

“Minta maaf setelah lo ambil semua yang gue punya? Iya? Lo minta maaf disaat gue udah nyerah?” cerca Arasha sambil mengepalkan tangannya, menahan emosi yang tiba-tiba saja memuncak.

“Aras, itu salah paham. Gue sama Ares cuman pura-pura pacaran kok.”

“Pura-pura?”

“Iya. Gue sama Aluna cuman pura-pura. Niat gue mau bikin lo ngerasa kalah, Ras. Tapi gue gak expect lo bakalan bilang nyerah. Gue gak mau lo pergi, tapi gue gak mau lo ngerasa menang. Dan sekarang gue sadar. Gak seharusnya gue rebut Aluna dengan cara kayak gini. Gue sama lo bisa aja dapetin Aluna, tapi mungkin lo milikin hatinya, sedangkan gue hanya sebatas teman sama dia.”

Ujar Aresha membuat Arasha terdiam beberapa saat. Mata lelaki itu menajam kearah Aresha, merasa tak terima dengan otak licik kembarannya.

“Lo udah punya Mama! Apa itu gak cukup?! Hah?!”

“Mama gak ada di pihak gue, Aras. Lo dan gue itu sama.” jelas Aresha membuat Arasha menatap bingung untuk kesekian kalinya. Matanya beralih kearah sang Mama yang terdiam sambil menunduk. Menatap Mama dengan mata menuntut penjelasan.

“Maksudnya apa?” tanya Arasha dengan suara yang amat lirih.

“Arasha, Aresha, Mama minta maaf, nak. Maaf Mama udah kasar ke kalian berdua. Maaf Mama udah gak adil ke kalian berdua. Untuk Aresha, Mama minta maaf karna kamu harus kena pukulan Mama sebelum Mama kasih perhatian ke kamu. Untuk Arasha, Mama minta maaf karna udah nuduh kamu sebagai pembunuh dan beberapa kali pukul kamu.”

“Ma? Mama pukul Aresha?”

“Iya, Ras. Mama pukul gue. Waktu kecil, gue iri banget sama lo karna lo selalu diutamain sama Mama dan Papa. Sampai akhirnya gue sengaja lukain diri gue sendiri supaya gak ada yang utamain lo lagi. Tapi yang percaya cuman Mama dan akhirnya cuman Mama yang sayang sama gue. Tapi itu gak lama, semuanya kebongkar gitu aja waktu gue cerita ke temen gue. Mama marah besar sama gue, Ras. Gue mohon-mohon sama Mama buat tetep perhatian sama gue. Tapi dengan satu syarat, gue harus jadi pelampiasan emosi Mama. Dan gue setuju sama hal itu.”

Arasha terdiam mendengar penjelasan dari Aresha. Ia tak pernah berfikir Aresha mendapati kekerasan sejak kecil dari sang Mama. Arasha tak pernah berfikir jika iri adalah penyebab Aresha benci kepadanya.

Arasha bangun dari duduknya. Dengan cepat ia memeluk Aresha dengan sangat erat. Tangisnya pecah seketika.

“Ares, maafin gue. Maaf gue salah paham sama lo. Maaf gue selalu bikin lo iri. Maaf, Ares. Gue bener-bener gak tau kalau lo juga di pukul sama Mama.” Arasha terisak dengan keras. Tangannya memeluk tubuh Aresha dengan sangat erat.

“Aras, semua ini salah paham yang gak akan bisa berakhir kalau kita gak saling mengalah untuk meminta maaf. Sekarang kita coba ya untuk buat keluarga yang bahagia? Buat Papa bahagia diatas sana. Ayo kita coba buat suasana rumah yang lebih hangat sama Mama? Gimana?” tanya Aresha sembari menghapus air mata Arasha.

Mata lelaki itu menatap Mama dengan penuh harapan. Dan akhirnya wanita paruh baya itu mengangguk, membuat Arasha tersenyum dengan bahagia. Ia langsung memeluk Mama dan Aresha dengan sangat erat. Memeluk dengan rasa sayang yang amat dalam.

Gadis dengan rambut terurai itu berdecak dengan kesal. Merasa tak terlihat kehadirannya dihadapan keluarga kecil yang sudah mencoba untuk hidup dengan bahagia.

“Kok Luna didiemin sih?!” cibir Aluna dengan kesal.

Arasha menoleh kearah Aluna. Terkekeh dengan gemas sebab wajah Aluna yang merengut sebal.

“Kasian si cantik. Sini peluk.” Arasha merenggangkan kedua tangannya yang langsung disambut hangat oleh Aluna.

Gadis itu memeluk Arasha dengan erat, seolah takut kehilangan lelaki yang sangat ia cintai sekarang.

“Aras, katanya cinta sama Luna? Katanya sayang sama Luna?” tanya Aluna dengan polosnya.

Arasha terdiam, bibirnya mengulum untuk menahan senyum akibat malu yang ia rasakan.

“Kenapa, Aluna?”

“Aluna juga sayang sama Aras, Aluna juga cinta sama Aras. Jadi kita tetep temenan aja?” lagi, Aluna kembali bertanya dengan polosnya membuat Aresha serta Mama terkekeh gemas.

“Tuh, gimana, Ras?” ledek Aresha sambil menyenggol lengan Arasha.

Arasha mendengus, ia melepaskan pelukannya secara perlahan.

“Nanti ya? Kuliah dulu yang bener. Kalo udah sukses, aku bakalan lamar kamu. Aku gak mau pacaran karna menurut aku pacaran itu gak menjamin suatu hubungan. Gimana?” ujar Arasha dengan sangat lembut.

Aluna tersenyum, ia langsung memeluk Arasha kembali dengan sangat erat.

“Setuju!”

Malam itu adalah malam paling bahagia untuk si kembar dan Aluna. Malam yang akan tak terlupakan untuk mereka semua. Jujur perihal rasa benci dan jujur perihal perasaan. Membuat mereka bertiga menjalin hubungan yang lebih baik kedepannya.

Menurut Arasha, kalimat semua orang berhak bahagia adalah kalimat yang sangat benar adanya. Dan sekarang Arasha telah merasakan bahagianyang sesungguh.

Hidup dengan keluarga yang hangat dan menjalin hari dengan wanita yang ia cintai.