Perempuan dengan hati baiknya.

Pukul 05.00 pagi. Kayna sudah terbangun dan hanya mencuci muka saja. Niat gadis itimu hari ini adalah untuk memasak sarapan Mahesa. Walau lelaki itu melarang Kayna untuk masak, tetapi Kayna masih terus berusaha. Berusaha meluluhkan hati Mahesa yang telah terkunci rapat.

“Aku masak apa ya hari ini?” gumam Kayna saat ia sudah berada di dapur.

Gadis itu membuka kulkas, berniat mengambil susu namun sudah lebih dulu dengan seorang perempuan yang tiba-tiba saja ada di sampingnya.

“Hai. Lo istrinya Mahesa ya?” tanya gadis itu.

Kayna terdiam. Perempuan yang ada dihadapannya ini adalah perempuan yang Mahesa bawa pulang semalam. Ada rasa tenang ketika Mahesa dan perempuan itu berpisah kamar.

“I-iya. Kamu siapa ya?”

“Gue Arasyia. Orang-orang manggil gue Acha jadi lo bisa manggil gue Acha.”

Acha tersenyum tipis. Lalu ia meminum susu putih itu setelah ia tuang ke gelas.

“Salam kenal Acha.” Kayna tersenyum, ia lanjut mengambil bahan-bahannya untuk memasak.

“Lo mau masak ya? Mau masak apa?” tanya Acha dengan antusias.

Kayna terdiam sejenak, ia melihat beberapa bahan yang sudah ia keluarkan.

“Mungkin aku cuman masak nasi goreng sosis sama telur dadar aja. Kamu mau sarapan disini? Aku buatin banyak.”

Acha memperhatikan Kayna dengan seksama. Cara bicara Kayna yang sangat lembut dan juga sopan membuat hati Acha terasa nyaman dan juga terenyuh. Seharusnya semalam Acha tidak berbicara kepada Mahesa perihal perasaannya. Harusnya ia sadar jika Mahesa bukan lagi miliknya.

Dan Kayna adalah gadis yang berhasil membuat Acha sadar akan semua hal itu.

“Iya, gue sarapan disini baru pergi cari apart. Gue gak enak kalau harus nginep dirumah kalian.”

“Eh? Gpp kok. Lagian ini rumah mas Mahesa, mas Mahesa pasti juga udah izinin kamu kok buat nginep disini. Kamu gak perlu gak enakan gitu, aku gak marah kok.”

Acha tersenyum, ia mengangguk dengan pelan. Tangannya terulur untuk membantu Kayna.

“Lo tau? Dulu gue sama Mahesa deket banget. Sekitar enam tahun yang lalu. Kita jalin hubungan, layaknya pasangan kayak umumnya. Mahesa baik, protective, care sama gue, manjain gue, selalu turutin apa yang gue mau.”

Acha menceritakannya dengan senyuman yang tidak bisa diartikan. Sedangkan Kayna hanya diam dengan hati yang sakit bak di patahkan.

“Tapi semuanya berubah saar fitnah tentang gue bermunculan. Gue di fitnah selingkuh dan hamil, gue di kucilkan, di caci maki, dihina, dijauhi. Bahkan sama Mahesa juga di jauhi.”

“Sampai gue dipaksa buat nikah sama cowo itu, dan cowo itu paksa gue buat hamil supaya gak ada yang curiga kalau dia bohong kesemua orang. Tapi usahanya gagal. Gue...gue susah punya anak.”

Air mata Acha seketika jatuh. Terasa sangat perih saat Acha harus menjalankan hidupnya dengan penuh fitnahan. Sulit untuk Acha melupakan kejadian dimana semua keluarganya selalu memojokan dirinya.

Kayna mengusap bahu Acha. Memberi semangat pada gadis itu ketika ia bercerita tentang masalalunya.

“Acha, itu artinya Tuhan lagi kirim karma buat suami kamu. Tuhan lagi bantu kamu supaya semuanya baik-baik aja. Acha semangat ya? Aku yakin kamu pasti bisa!”

Acha semakin terisak. Ia baru pertama kali mendapatkan semangat setelah enam tahun ia berjalan sendirian. Berjalan dengan lurusnya hingga banyak luka yang Acha terima.

“Kayna! Kamu apakan Acha?! Kenapa kamu membuat dia menangis?!”

Sialnya, tangisan Acha membuat Mahesa terbangun. Menimbulkan kesalahan pahaman antara Kayna dan juga Mahesa.