Perginya Anindhita.
Suara langkah kaki yang sangat kencang dari sepatu Atma memenuhi lorong yang menuju tempat ruang jenazah. Hati lelaki itu sejak tadi tak dapat tenang mengingat pesan yang diberikan oleh mertuanya. Langkahnya semakin cepat menuju tempat yang menjadi kekhawatirannya.
Perlahan, langkah itu melambat disaat matanya menangkap wanita paruh baya yang menghapus air mata menggunakan tissue yang berada ditangannya. Atma mendekat dengan perlahan, matanya telah diselimuti oleh kecemasan.
“Bun...” panggil Atma dengan suara yang lirih. Mata lelaki itu telah berlinang air mata yg siap kapan saja akan jatuh di permukaan pipinya.
Ratna—ibunda Anin menoleh kearah Atma. Menatap menantunya dengan senyuman yang terukir di wajahnya. Memberi usapan hangat pada pipi Atma yang telah basah.
“Atma, terima kasih sudah mencintai anak Bunda ya?” ujar Ratna dengan suara yang parau. Wanita itu habis menangis sendirian, ditengah lorong yang sepi oleh manusia yang berlalu lalang.
“Bun, Anin...Anin baik-baik saja kan?”
“Nak Atma, Anin baik-baik saja. Dia sudah bersama Tuhan sekarang. Terima kasih ya telah mencintai anak Bunda? Dan menerima semua kekurangannya.” ujar Ratna membuat Atma mengernyit heran.
“Anin tidak ada kekurangan, Bunda. Anin semp—”
“Sebenarnya Anin tidak bisa memiliki keturunan Atma.” ucapan Bunda mampu membuat Atma bungkam. Lelaki itu menatap Ratna penuh dengan kebingungan.
“Alasan Anin bersikap kasar supaya kamu mau melepaskan dia. Supaya kamu tidak memiliki istri yang tidak bisa memberi keturunan. Anin itu mencintai kamu, Atma. Sangat mencintai kamu. Namun karna kekurangannya Anin harus hidup didalam dunia palsunya bersama kamu.”
Penjelasan dari Ratna mampu memecahkan tangisan Atma. Lelaki itu terisak keras, merasa gagal menjaga istrinya dan merasa tidak becus menjadi suami yang kurang pantas.
“Atma, jangan menangis. Anin paling tidak suka kalau nak Atma menangis.” Ratma memeluk menantu kesayangannya yang terisak. Bahu Atma bergetar hebat, tangisan lelaki itu semakin kencang didengar.
“Anin, maafkan saya. Maaf... Maafkan saya, Anin...” Atma terus bergumam di sela tangisnya. Terus meminta maaf untuk sesuatu kesalahan yang tidak pernah Atma lakukan.