Perihal perasaan.

Jevan memandangi roomchat nya dengan Gracia. Pesan terakhir gadis itu membuat Jevan tak bisa lagi membalas. Hanya mampu membaca dengan hati yang berat. Pesan itu sudah dapat menggambarkan bagaimana sakitnya Gracia karna dirinya.

“Cia, maaf.” gumam Jevan. Ingin kembali mengirim pesan maaf namun suara imut milik seorang perempuan menghentikan niatnya.

Jevan langsung mematikan ponselnya. Tak ingin Rara datang lalu melihat isi pesannya dengan Gracia. Tak ingin sahabatnya kembali terkena masalah karna dirinya.

“Kenapa, Ra?” tanya Jevan menaikan sebelah alisnya. Memutar tubuh menghadap pada Rara.

“Kamu ngapain bolos? Nanti kalo ketauan guru gimana?” tanya Jevan kembali saat menyadari Rara bolos pada pelajaran terakhir.

Gadis itu menggeleng sambil tersenyum. Rara langsung meraih lengan Jevan dan menggenggamnya dengan erat.

“Gurunya gak ada. Jadi aku bebas kemana aja. Lagian bosen diem dikelas doang, gak ada kamu.” ujar Rara dengan nada manjanya. Seperti biasa.

Namun entah mengapa kali ini Jevan merasa sangat tidak tertarik dengan Rara. Pikirannya kembali pada Gracia. Masih memikirkan betapa sakitnya gadis itu karna selalu Jevan tolak ajakannya.

“Jev? Kok diem aja sih?!” kesal Rara sambil menghentakan kakinya.

Jevan menatap dengan kesal namun langsung tertutupi oleh senyuman. Tangannya mengusap rambut gadis itu secara terpaksa.

“Jangan sering bolos. Balik ya ke kelas kamu?”

“Gak mau. Mau disini sama kamu.”

Jevan menghela nafas pelan. Lebih memilih untuk mengalah dibandingkan berdebat lebih panjang.

Walau Rara banyak didiamkan oleh Jevan, namun gadis itu tidak mau bangkit dari duduknya. Tetap menggenggam tangan Jevan dan banyak bercerita tentang kehidupan lalunya.