Perlakuan diam-diam.

Jevan memasuki rumah milik Gracia bersama dengan Darma setelah mendapatkan izin masuk oleh dua penjaga di sisi pintu. Kedua langsung menghampiri Gracia yang berada di ruang tengah dan memberi permen kapas pesanan gadis itu. Gracia tersenyum saat melihat makanan kesukaannya. Ia langsung mengambil permen kapasnya dan membuka bungkusan itu.

“Makasih!” ujarnya sambil menatap Darma dan Jevan secara bergantian.

Jevan tersenyum. Ia langsung memeluk Gracia dari belakang. Menempatkan dagunya pada gadis itu dan memeluknya dengan erat. Seakan ia takut ia akan kehilangan wanita yang dapat membuatnya nyaman dengan berada di dekatnya.

“Ci, gue sakit hati. Tapi gue gak bisa nuduh Rara gitu aja. Siapa tau mereka temenan kan?” ucap Jevan memulai inti pembicaraan.

Gracia terdiam sebentar. Memikirkan rencananya yang berjalan mulai sekarang. Mungkin gadis itu tidak perlu memberi tau Jevan yang sebenarnya. Dan ia juga harus berhati-hati dengan Darma. Semuanya nampak mencurigakan dimata Gracia.

“Jangan terlalu dipikirin. Mending sekarang lo makan aja ya? Siapa tau bisa hilangin rasa kesel lo.”

“Gue gak mood makan.”

Jevan semakin mengeratkan pelukannya. Tetapi Gracia tetap diam dan sibuk memakan permen kapas yang berwarna merah muda itu.

Sedangkan Darma, lelaki itu sibuk mengambil foto Jevan dan Gracia secara diam-diam yang tentu Gracia sadari kelakuan Darma.

“Bagus, Dar. Biar Jevan lebih cepet lepas dari cewek uler itu.”