Pertemuan paling menyakitkan.

Cw // Kissing

Pukul 07.55 malam, dengan udara dingin yang mengelilingi kota Amsterdam tak dapat mendinginkan kepala Gema yang tiba-tiba saja panas. Sudah 15 menit lelaki itu menunggu didalam resto yang dimaksud oleh Kania, namun gadis itu belum datang hingga sekarang.

Hingga 5 menit kemudian, Kania datang dengan tas kecil yang ia bawa. Gadis itu dengan santainya duduk dihadapan Gema dengan wajah yang sangat menjengkelkan untuk Gema.

“Ck. Lama banget lo.” ujar lelaki itu dengan kesa. Menatap sinis gadis yang ada dihadapannya.

“Santai aja, Gema. Lo terlalu buru-buru.” Kania menaruh tas kecilnya diatas meja. Mengambil sebuah flashdisk yang tersimpat di tas itu.

“Ini ada file tugas yang diminta sama dosen kemarin. Itu baru sebagian doang, sebagiannya lo yang kerjain. Gue tau lo gak mau sama gue lama-lama, makannya gue kerjain duluan dan sisain bagian buat lo.” ujar Kania.

Gema menaikan sebelah alisnya, ia mengambil flashdisk itu dengan kesal.

“Udah? Lo kan bisa kirim filenya lewat imess. Kenapa harus ketemuan disini?”

“Biar bisa makan malem sama lo.”

Tatapan Gema berubah kesal sebab Kania mengentengkan semua ucapannya. Lelaki itu berdiri, mengambil ponsel yang berada diatas meja.

“Gue balik. Gak guna makan malem sama lo.”

Saat Gema ingin pergi, Kania dengan sangat kuat menarik lengan lelaki itu hingga Gema tak sengaja menunduk dan berakhir mencium pipi Kania. Buat siapa saja yang melihat, pasti mengira Gema sedang mencium bibir gadis itu.

Terutama Athaya. Perempuan yang sejak baru saja datang dan langsung disambut oleh pandangan yang membuat hatinya sangat sakit. Apa lagi, melihat Gema yang masih diam mematung dihadapan Kania.

“Anjing!” Gema menjauhkan dirinya dari Kania. Lelaki itu membalikan badannya, ingin pergi dari resto namun ia memantung ditempat saat melihat Athaya yang berdiri sambil memegang koper besar.

“Tha?” panggil Gema dengan sedikit keras.

Athaya tak menjawab apapun, ia langsung keluar dari resto tersebut. Mencari taxi yang entah kemana perginya.

“Tha! Tunggu!” Gema ingin berlari keluat, namun lagi-lagi lengannya ditahan oleh Kania.

“Udah elah, cewek lo salah paham paling. Baperan banget.” ujar Kania dengan sangat enteng.

Gema menyentakan tangan gadis itu, tak menjawab apapun dan langsung berlari keluar. Pikirannya hanya untuk mengejar Athaya dan menjelaskan semuanya. Tak ingin terjadi kesalah pahaman yang semakin panjang.

“Ketidak sengajaan yang bagus, Kania.”