Pertemuan pertama.

Suara lonceng yang berada di pintu Cafe mengalihkan perhatian Jevan. Lelaki itu sangat gugup sejak tadi, dan semakin gugup saat matanya bertemu dengan mata indah milik sahabatnya dulu.

Jevan mengangkat tangannya dengan ragu. Memberi petinjuk ke Gracia bahwa lelaki itu berada di bangku paling belakang dengan posisi yang sangat dekat dengan jendela.

Gracia menghampiri Jevan dengan wajah yang ia buat tegar. Tak ingin pertahanannya runtuh didepan lelaki itu. Ia tak ingin terlihat lemah didepan Jevan.

“Mau ngomong apa?” Tanya Gracia setelah duduk dihadapan Jevan.

“Gak pesen minum dulu?”

“Gak usah. Gue gak haus.”

Jevan menelan salivanya dengan kasar. Gadis dihadapannya telah berubah menjadi gadis yang sangat ketus. Tentu Jevan sadar itu semua karna dirinya.

“Ci, sebelumnya gue minta maaf sama lo. Maaf dengan gak tau malunya gue minta ketemu sama lo lagi.” Jevan menarik nafasnya. Seolah ia ingin mengucapkan kalimat dalam satu tarikan nafas.

“Empat tahun gue jalanin dengan rasa penyesalan gue. Dengan pikiran gue yang selalu mengarah ke lo. Dengan harapan gue yang bisa balik lagi kayak dulu. Gue mati-matian belajar, cari uang, bagi waktu biar bisa ke Bandung. Biar gue bisa ketemu lo.”

“Tapi harapan gue bisa balik ke lo langsung hancur ketika gue tau lo udah punya pacar disini. Bahkan dia lebih baik dari gue. Udah gak ada kesempatan lagi ya, Ci? Gue udah gak bisa berharap lagi ya buat bisa sama lo? Gue bodoh ya karna gue telat sadar tentang perasaan gue ke lo?”

“Kalau gue bisa, gue bakal putar waktu ke empat tahun yang lalu. Dimana gue bakal jauhin Rara dan lebih milih sama lo. Gue bakalan lebih milih lo ketimbang cewe itu. Tapi kayaknya percuma ya? Karna gue gak bisa. Itu semua cuman angan yang gak bisa digapai sama sekali.”

“Jev-”

“Cia, gue berharap banget dengan usaha gue selama empat tahun bisa dibayar semuanya. Tapi kayaknya enggak. Gue terlalu banyak mau ya, Ci? Sampai Tuhan kirim seseorang dan berhasil rebut hati lo.”

“Jevan, gimana kabar lo?”

Jevan terdiam. Ia menatap mata Gracia dengan dalam. Mata yang masih sama seperti 4 tahun yang lalu.

“Jev, gue maafin lo. Tapi maaf, gue udah punya cowo yang harus gue jaga hatinya. Kita temenan aja ya?”

Gracia menatap Jevan dengan sendu. Ternyata selama 4 tahun Jevan tidak baik-baik saja. Dan Gracia menjalankan kehidupan dengan normal, bahkan ia bisa menyebut dirinya dengan sebutan egois.

“Ci, makasih lo udah maafin gue. Gpp kita cuman temenan. Yang penting sekarang lo gak tinggalin gue lagi kan?”

Jevan tersenyum. Lebih tepatnya memaksakan senyuman. Semuanya terasa sangat menyakitkan ketika Gracia hanya menginginkan hubungan sebatas teman.

Bisa saja Jevan menganggap ini semua karma. Karna dulu dengan bodohnya Jevan hanya menganggap Gracia sebatas sahabat.