Nasi Goreng

Suasana malam dengan sejuk yang menurut Kara tidak terlalu dingin membuat gadis itu berjalan dengan sangat santai tanpa beban. Tangan kirinya sedari tadi di genggam oleh Jevan, sedangkan tangan kanannya ia masukan saku jaket.

“Kamu udah makan malam?” tanya Jevan sambil mengusap rambut Kara.

Kara menoleh, gadis itu berpikir sejenak lalu menggeleng pelan sambil mengulum bibir bawahnya. Membuat Jevan terkekeh gemas melihat wajah Kara.

“Lucunya pacar aku.” puji Jevan sambil mencubit pipi Kara membuat gadis itu tersipu malu.

“Diem ih.” ujarnya dengan salah tingkah.

Jevan tertawa pelan. Matanya mengedar pinggir jalan yang ramai pedagang kaki lima. Lalu matanya menangkap tempat nasi goreng kesukaan dirinya. Lebih tepatnya kesukaan Gracia dan dirinya.

“Mau makan itu gak?” tanya Jevan sambil menunjuk pedagang nasi gorengnya.

Kara diam sejenak, lalu ia mengangguk antusias. “Ayo!”

Jevan tersenyum, ia mengenggam tangan Kara lalu berjalan mendekati penjual nasi gorengnya.

“Mang, dua ya. Nasi goreng spesial. Yang satu pedes yang satu setengah pedes aja.”

Kara tersenyum sambil melihat Jevan yang membawanya ketempat duduk yang kosong.

“Kamu udah pernah makan disini?”

“Udah.”

“Sendiri?”

Jevan terdiam, menimang apakah ia harus berucap jujur atau tidak.

“Iya, sendiri.” Jevan tersenyum tipis. Untuk kedepannya ia benar-benar tidak ingin menyakiti Kara.

Gadis itu mengangguk paham. Ia memainkan tempat tusuk gigi yang berada diatas meja, sesekali memperhatikan Jevan yang sibuk melihat ponselnya.

“Kamu ngapain?”

Jevan sedikit tersentak saat mendengar suara Kara. Lelaki itu menggeleng, ia kembali menaruh hpnya pada saku jaketnya. Membuat Kara menatap curiga.

Namun atensi Kara teralihkan oleh suara notif pesan yang masuk. Gadis itu mengambil ponselnya, melihat pesan yang diberikan oleh seseorang yang mampu dirinya diam dengan suasana hati yang berubah berantakan.