Poor Evelyn.

Suasana ramai di arena yang berada di daerah Jakarta membuat Orelyn berkali-kali harus berjinjit untuk melihat apakah Haekal sudah datang bersama Evelyn yang baru saja mengirimkan pesan pada dirinya.

Gadis itu berkali-kali sibuk mengirimkan pesan yang tak kunjung dibalas oleh Haekal. Ia berdecak kesal, bibirnya mencabik-cabik tak suka.

“Kenapa sih lo, Rel?” tanya Jemian sambil merangkul Orelyn.

Orelyn mendengus, ia memberikan ponselnya pada Jemian yang masih membuka roomchatnya dengan Evelyn. Reon dan Jean langsung berdiri dibelakang Jemian untuk melihat pesan tersebut.

Tawa ketiga lelaki itu pecah seketika. Mereka menertawakan kebodohan Evelyn yang mau saja dimainkan oleh mereka berlima.

“Gue rasa kalo Evelyn tau kayaknya bakal malu dah.” komentar Reon masih saja tertawa.

“Udah ah. Ini Haekal mana sih? Gue suruh dia jemput mak lampir, bukan malah jalan-jalan anjir.” gerutu Orelyn sembari menghentakan kakinya.

Jean menoleh kearah belakang, tempat pintu masuk arena. Dan matanya berhasil menangkap Haekal yang di gandeng mesra oleh Evelyn.

“Eh bro!” sapa Jean berhasil mengalihkan pandangan Orelyn. Gadis itu mendekati Haekal, disusul oleh Jemian dan Reon di belakangnya.

“Hai.” sapa Orelyn sembari tersenyum ke Haekal.

Evelyn menatap bingung kearah gadis yang tak ia sukai sejak awal. Tatapannya berubah kesal saat Orelyn dengan santainya menyapa Haekal.

“Lo ngapain disini? Gak ada yang ngajak lo ya!” ujar Evelyn dengan nada ketusnya. Orelyn menaikan sebelah alisnya, melihat pakaian Evelyn dari bawah hingga atas.

“Bahan baju lo kemana? Dijadiin lap ya?” ejek Orelyn sebab pakaian Evelyn yang terlalu terbuka.

Tangan Evelyn terkepal dengan kuat, ingin menjambak rambut Orelyn namun ia tahan sebab ada anak Orion lainnya.

“Haekal, kok dia diajak sih? Murahan banget.” rengek Evelyn sambil menggoyangkan lengan Haekal yang langsung di tepis oleh lelaki itu.

“Haekal.” kini Orelyn yang berujar manja. Gadis itu langsung menggenggam erat tangan Haekal dan langsung dibalas oleh Haekal. Tentu Evelyn merasa panas sekarang.

“Siram woi siram!” ejek Jemian dengan senang.

“Anyway, lo bilang makasih gih ke Orelyn karna dia yang izinin lo buat ikut. Dan dia yang suruh Haekal buat nebengin lo.” ujar Reon dengan nada dinginnya.

Orelyn tersenyum remeh kearah Evelyn yang wajahnya sudah memerah menahan amarah. Tatapannya seolah mengejek karna ia kembali menang untuk kesekian kalinya.

“Ayo ah. Gue disini mau nonton balapan Jean. Bukan CAPER.”