Pukulan dari Mama.
Suara motor milik Arasha memasuki garasi rumah. Lelaki itu turun dari motornya setelah melepaskan helm yang berada di kepala. Langkahnya dengan berat membawa tubuhnya ke teras sebelum ia memasuki rumah.
Arasha menghela nafas berat. Entah mengapa setiap ia memasuki rumahnya langsung hadir rasa cemas yang menyerang. Terlebih lagi sudah tidak ada Papa. Tidak ada seseorang yang melindungi dirinya lagi sekarang.
Tangan Arasha terangkat perlahan untuk membuka pintu. Namun sebelum tangan itu menyentuh gagang pintu, pintu sudah terbuka terlebih dahulu.
Adeline—Mama Arasha, menarik kerah Arasha hingga masuk kedalam. Membanting anaknya tanpa rasa iba.
Arasha meringis, sebab telapak tangannya terasa sakit karna harus menahan tubuh Arasha yang jatuh secara tiba-tiba.
“Ma! Apa-apaan sih?! Aras baru pulang!” cerca Arasha dengan berani. Tak perduli jika Adeline akan memukul dirinya dengan gagang sapu yang sedang genggam wanita itu.
Bugh-!
Benar. Dugaan Arasha tepat sasara. Adeline memukul kakinya dengan kencang. Membuat Arasha meringis dan menjauhkan kakinya secara reflek.
“Diam Arasha!” bentak Adeline.
Wanita itu menjambak rambut Arasha dengan kasar. Kewarasannya sudah hilang sebab rasa sedih kehilangan suaminya. Adeline belum bisa menerima kepergian sang suami. Hingga emosi wanita itu semakin tak dapat terkontrol untuk menghilangkan rasa sedihnya.
Bugh-!
Lagi. Arasha kembali meringis. Namun bukan karna pukulan. Melainkan kepalanya di benturkan oleh meja yang berada dibelakangnya.
Pening langsung menyerang Arasha. Dadanya terasa sakit akibat benturan yang berada di kepala. Lelaki itu hampir limbung ditempat.
“Pembawa sial! Anak sialan!” teriak Adeline. Perempuan itu langsung pergi ke kamar, meninggalkan Arasha yang sudah terbaring tak berdaya.
Arasha terus mencengkram lengannya. Dadanya terasa semakin sakit dan kepalanya semakin pening. Dengan tergesa lelaki itu mencari obat yang berada di sakunya. Meminum beberapa pil obat tanpa bantuan air mineral.
Ia memejamkan matanya. Air mata langsung lolos dari sudut matanya. Terasa sakit. Bukan fisiknya, tetapi hatinya.
Tak pernah sekali pun Arasha merasakan kasih sayang dari Mamanya. Tak pernah sekali pun Arasha di peluk disela rasa sakitnya.
Arasha ingin seperti Aresha. Di manja, dibuatkan sarapan, bahkan selalu di peluk didepan matanya.
Arasha iri. Arasha ingin merasakan kebahagiaan. Bukan hanya rasa sakit sebab penyakit dan keluarganya.