Putus

Langkah kaki dari gadis berambut sebahu itu dapat terdengar oleh Gema yang berdiri sambil melihat kearah dinding belakang sekolah. Gema menoleh saat langkah kaki tersebut sudah tidak terdengar.

Dihadapannya, terdapat seorang gadis dengan mata yang sembab. Gema bisa tebak bahwa gadisnya menangis semalaman.

“Tha, maaf...” ujar Gema dengan suara lirih.

Athaya menunduk, berusaha menyembunyikan air matanya. Merasa sangat jahat dan sakit.

“Ayo, Tha. Tampar aku sekarang. Jangan diemin aku, aku mohon. Jangan minta putus ya, Tha? Aku masih sayang sama kamu.”

Gema menggenggam tangan Athaya, tak ada penolakan disana. Hanya suara isakan yang terdengar.

“Tha, jangan nangis.” Gema ingin menghapus air mata Athaya. Namun ditepis dengan gadis itu, membuat Gema tersentak dengan terkejut.

“Tha?”

“Ayo putus, Kak.”

Tiga kata yang berhasil membuat Gema membeku. Lelaki itu menggeleng dengan perlahan, kembali meraih tangan Athaya yang yang sempat terlepas. Namun gadis itu dengan cepat menepis tangan Gema.

“Tha, aku mohon. Aku gak mau putus. Aku tau aku salah, aku jahat sama kamu karna aku abain kamu semalem. Aku minta maaf, jangan pu—”

“Aku yang jahat, Kak. Kalo kakak tau suatu hal, apa kakak masih sayang sama aku? Aku yakin nggak. Jadi, mending kita putus aja ya?”

Suara Athaya terdengar gemetar. Pipinya kembali basah karna air mata yang kembali mengalir. Gadis itu menunduk, kembali terisak karna merasakan sakit yang amat dalam.

“Tha, maksud kamu apa? Suatu hal apa? Kamu sembunyiin sesuatu dari aku?” Gema mendekati Athaya perlahan, memeluk gadis itu yang bahunya bergetar karna menangis.

“Tha, kasih tau aku. Aku gak akan marah. Percaya sama aku.” ujar Gema dengan selembut mungkin. Walau didalam hatinya ada rasa cemas yang sangat besar.

“K-kak, maaf. Aku disuruh Deva buat pacarin kamu. Setelah sebulan aku disuruh putusin kamu. Kalau enggak aib keluarga aku bakalan dibongkar sama dia. Aku takut Mama kenapa-kenapa, Kak.”

Athaya mengeratkan pelukannya, ia semakin terisak. Takut jika Gema marah besar dengan dirinya. Namun tanpa disangka, Gema mengusap rambutnya. Mencium kening Athaya yang berkeringat akibat menangis.

“Aku gak marah. Tenang aja ya? Aku paham kamu lakuin ini demi Mama kamu. Aku gak masalah. Tapi aku gak mau kita putus, Tha. Kita cari jalan keluar sama-sama ya?”

Gema sedikit merunduk untuk mensejajarkan tingginya dengan Athaya, menghapus air mata gadisnya yang masih mengalir.

“Udah, Tha. Aku gak marah karna kamu lakuin dengan alasan yang buat aku bangga. Kamu baik, kamu berbakti sama Mama kamu. Kamu gak mau Mama kamu kenapa-kenapa. I'm so proud of you, Tha. I love you.”