Rapuhnya Angkasa.

Suara mesin EKG yang terdengar sangat lemah langsung masuk pada telinga lelaki pimilik nama Angkasa. Lelaki itu menatap gadisnya yang terbaring lemah dengan beberapa alat medis serta perban yang terpasang di kepalanya. Air matanya langsung keluar begitu saja saat melihat kondisi gadisnya yang mengkhawatirkan.

“A-asa...” suara Alingga yang sangat lemah berhasil membuat tangis Angkasa langsung pecah seketika.

Hati lelaki itu sangat sakit. Dunia Angkasa telah hancur disaat ia mendengar kabar bahwa Alingga mengalami kecelakaan fatal. Lelaki itu benar-benar takut jika harus kehilangan cintanya.

“Jingga, Jingga jangan tinggalin aku. Aku mohon, sayang. Kamu sayang sama aku kan? Jangan tinggalin aku ya? Jangan tinggalin Asa.” Angkasa terisak dengan keras. Lelaki itu menggenggam tangan Alingga dengan sangat erat. Takut jika raga gadisnya harus pergi meninggalkan dirinya sendirian.

“Asa... aku s-selalu sama kamu.” Alingga berusaha berbicara. Gadis itu memaksakan senyumannya.

“M-maaf. Aku jaga k-kamu dari jauh ya? D-dari langit, Asa.”

Ucapan Alingga berhasil membuat Angkasa terisak dengan keras. Lelaki itu menggelengkan kepalanya, tangannya semakin mengeratkan genggaman pada tangan gadis itu.

“Jangan tinggalin aku. Aku mohon.”

Tak ada jawaban apapun. Tangan Alingga kini terasa sangat dingin, matanya terpejam setelah ucapan perpisahan untuk Angkasa ia ucapkan, suara mesin EKG kini berbunyi sangat kencang.

Kaki Angkasa berubah sangat lemas. Lelaki itu jatuh untuk pertama kalinya. Terisak keras didalam ruang ICU dengan beberapa dokter yang mengawasi Alingga. Tangannya terus memukul dadanya yang terasa sakit. Hatinya begitu hancur saat mengingat bagaimana perjuangannya untuk Alingga.

Empat tahun. Empat tahun hidup bersama di Amsterdam dengan Alingga. Hidup berdua di benua Eropa dengan berbagai perjuangan. Menciptakan momen-momen yang indah untuk Angkasa dan Alingga simpan.

Tak pernah sekalipun Angkasa berfikir momen itu hanya akan jadi kenangan untuk dirinya saja. Rasa sangat sakit jika Angkasa ingat kembali kenangan empat tahun bersama Alingga.

Hidup Angkasa telah berubah menjadi abu semenjak kepergian Alingga. Cintanya telah pergi. Kehidupannya telah hancur. Hatinya telah terbawa oleh cintanya.

Dan perasaannya telah mati bersamaan dengan Alingga Jinggala.