Rapuhnya gadis bernama Alingga.
Suara hentakan kaki yang begitu kencang mengikuti suara larinya Alingga di lorong rumah sakit. Gadis itu langsung terburu-buru untuk menuju ruang ICU. Tempat dimana Bundanya dirawat sekarang.
Langkahnya terhenti saat ia sudah berada didepan pintu ruang ICU. Tangannya dengan gemetar membuka pintu ruangan itu dengan perlahan. Fikirannya menolak keras untuk melihat sang Ibunda yang pastinya terbaring lemah. Namun tubuhnya ia tetap gerakan untuk melihat kondisi Bundanya. Berharap semuanya akan baik-baik saja.
Dengan perlahan, langkahnya ia tuntun untuk menuju salah satu kamar. Kamar dengan pintu yang terdapat kaca besar, sehingga ruangan dalamnya dapat terlihat.
Bibir gadis itu bergetar saat melihat sang Ibunda terbaring dengan lemas, terdapat banyaknya peralatan medis yang terpasang.
Tangisnya pecah begitu saja saat kepala itu menunduk. Matanya terpejam, isakannya keluar dengan suara yang amat memilukan. Bahunya bergetar hebat, seakan beban kembali menimpa bahu rapuh milik Alingga.
Terbaringnya Ibunda pada malam hari ini, berhasil membuat Alingga hancur untuk kesekian kalinya. Berharap Tuhan akan berbaik hati, memberikan sang Ibunda kesempatan kedua kali.
Karna pada nyatanya Alingga bertahan hanya karna Bunda sebagai penyemangatnya.