Rencana Duo Bapak.
Udara dingin yang ditimbulkan karna AC dan juga jendela yang terbuka tak bisa membuat Jeffryan sedikit pun untuk tenang. Sudah satu jam Jeffryan duduk pada kursi yang tersedia disamping brankar putrinya. Namun sedari tadi putrinya belum membuka matanya hanya sekedar untuk melihat cahaya.
Tangan kasar itu terus mengusap punggung tangan yang diperban lengannya. Sebab Orelyn melukai pergelangan tangan tersebut. Untungnya Jeffryan datang sebelum Orelyn kehilangan kesadarannya.
Kelopak mata itu perlahan bergerak. Orelyn membuka matanya dengan perlahan, berkali-kali mengerjap untuk menyesuaikan cahaya yang masuk. Ringisan langsung keluar dari mulutnya saat ia merasakan perih pada pergelangan tangannya.
“Sayang.” Jeffryan bangun dari duduknya, ia menaruh tangan Orelyn secara perlahan. Tak mau membuat putrinya semakin sakit sebab ulahnya. “Ada yang sakit? Papa panggil dokter ya?”
Orelyn menggeleng pelan untuk menolak tawaran sang Papa. Gadis itu bangun dengan perlahan, bahunya langsung ditahan oleh Jeffryan yang sedang menatapnya dengan tatapan yang khawatir.
“Jangan banyak bergerak ya? Kamu baru sadar.” ujarnya dengan suara pelan. Orelyn tersenyum tipis, tangannya ia gunakan untuk menarik lengan sang Papa hingga Jeffryan memeluk dirinya.
Pelukan yang selalu Orelyn inginkan. Pelukan yang selalu Orelyn harapkan. Pelukan yang sangat-sangat hangat untuk Orelyn rasakan. Bahkan gadis itu selalu menanyakan bagaimana hangatnya peluka sang Papa pada Haekal.
“Nak, maafkan Papa ya? Maaf Papa sudah membuat kamu seperti ini.” Jeffryan mengusap rambut Orelyn. Suara lelaki itu terdengar gemetar ditelinga Orelyn. Menahan air mata yang sudah berada diujung matanya.
“Papa. Jangan nangis.” Orelyn mengeratkan pelukannya. Memejamkan matanya supaya kehangatan itu semakin terasa. “Ini bukan salah Papa kok.”
“Jangan tinggalkan Papa ya? Papa mohon. Alasan Papa untuk bertahan didunia hanya kamu, Orelyn. Alasan Papa untuk bertahan hidup hanya kamu. Alasan Papa untuk tersenyum hanya kamu. Jangan tinggalkan Papa. Papa mohon, Papa minta maaf.” tangis Jeffryan pecah seketika. Pria itu terisak kecil pada dekapan anaknya.
Dirinya sungguh merasa bersalah sebab telah membuat anaknya menyerah. Hatinya sungguh sakit saat berkali-kali mendengar anaknya ingin menyusul mendiang sang istri dan putranya.
“Papa, udah. Aku juga minta maaf ya? Aku kalut banget, makannya kayak gitu. Sekarang udah ada Evelyn, dunia Papa bukan cuman aku lagi.” Orelyn berucap dengan santainya membuat Jeffryan terdiam. Pria itu menggeleng keras, ia semakin mengeratkan pelukannya pada putri kesayangannya.
“Papa lagi jalanin rencana, sayang. Papa lagi membuktikan semuanya.” ucapan Jeffryan dengan suara yang bergetar langsung merubah raut wajah Orelyn. Gadis itu melepaskan pelukannya, menatap sang Papa yang dibanjiri air mata dengan tatapan yang bingung.
“Maksud Papa apa?”
Jeffryan menghapus air matanya. Ia duduk pada pinggir ranjang lalu mengusap rambut anak kesayangannya.
“Sebenarnya, Papa curiga dengan Evelyn. Papa tidak sengaja dengar saat malam pesta itu, Harsa menyebut Evelyn adalah anak adopsi. Lalu selang sehari, tiba-tiba Harsa bilang Evelyn itu anak Papa. Katanya dia menukar anaknya dengan anak Papa, yaitu kembaran kamu. Karna Papa tidak yakin, akhirnya Papa dan Evelyn melakukan tes DNA yang hasilnya menbenarkan bahwa Papa dan Evelyn adalah keluarga. Tapi Papa kurang percaya karna tidak ada rasa antara orang tua ke anak dari diri Papa sendiri.”
“Makannya Papa nurutin kemuan dia semuanya. Papa pengen cari bukti-bukti semuanya. Papa udah dapar rambut Evelyn. Tinggal Papa cari motif dia dan Harsa.” Jeffryan mengusap rambut Orelyn dengan sangat lembut. Menatap putrinya dengan tatapan penuh kasih sayang.
Orelyn memukul Papanya dengan sangat kesal. Berkali-kali ia memukul lengan Jeffryan dengan penuh tenaga sebab kesal.
“Papa! Padahal aku udah sakit hati tau! Males banget!! Terus Haekal aku gimana?!” kesal Orelyn sambil menatap tajam sang Papa. Jeffryan terkekeh pelan, ia mengusap lengannya yang terasa perih.
“Tenang aja. Papa cuman kasih sampai tahap pertunangan aja. Nanti nikahnya sama kamu.” ujar Jeffryan sambil terkekeh pelan. Orelyn tersenyum lebar, ia memeluk Jeffryan kembali.
“Orelyn!” suara dari seseorang yang sangat Orelyn kenal membuat Orelyn dan Jeffryan menoleh kearah pintu masuk.
Haekal dengan langkah yang cepat langsung mendekap Orelyn dengan penuh khawatir. Mendekap gadis itu dengan sangat kuat, seolah takut kehilangan untuk kedua kalinya.
“Aku khawatir.” ucap Haekal dengan suara yang bergetar. Lelaki itu mengecup kening Orelyn berkali-kali, semakin mengeratkan dekapannya namun tak ada balasan apapun dari Orelyn.
“Aku udah tau semuanya. Kita bisa balik lagi. Ayo balik sama aku. Aku gak mau putus, Rel. Please.” Haekal terisak didalam pelukan Orelyn. Gadis itu tersenyum tipis, ia membalas pelukan Haekal dengan perlahan.
“Aku gak suka diduain. Selesain dulu semuanya ya? Baru kita balik lagi.” ujar Orelyn dengan senyuman.
Haekal semakin mengeratkan pelukannya. Lelaki itu benar-benar khawatir, takut kehilangan Orelyn untuk kedua kalinya. Ia tak mau Orelyn benar-benar pergi dari hidupnya. Karna seluruh jiwanya, telah berhasil Orelyn ambil dari kehidupannya.