Ribut.

Suara pintu ruangan Darma yang terbuka mengalihkan perhatian lelaki itu. Darma melihat kearah pintu, terdapat satu perempuan dengan ransel kecil yang ada disebelah kanannya.

Darma menaikan sebelah alisnya, menatap wanita yang sedang berdiri diambang pintu dengan tatapan dingin. Wajahnya terlihat tidak suka karna kehadiran gadis itu.

“Mau apa lo kesini? Pulang. Cewek gue gak suka lo kesini.” Ujar Darma dengan lantang.

Almara menelan salivanya dengan kasar, namun ia dapat memberanikan dirinya untuk mendekati Darma perlahan.

“Gue istri lo. Gue berhak ketemu sama lo, Dar.”

“Atas dasar kecerobohan lo. Lo fikir gue mau nikah sama lo? Nggak! Gak usah berharap lo!”

Ucapan lantang Darma berhasil membuat Almara berhenti didepan Darma. Sedikit jauh dari ranjang.

Almara menarik nafasnya sekuat tenaga. Terdengar menyakitkan dan sesak. Bahkan bibirnya mulai bergetar untuk menahan tangisnya.

“Dar, gue-”

“Pulang brengsek! Gue gak butuh lo disini! Murahan banget cara lo sampe bikin gue putus sama Aruni!”

Almara terdiam, air matanya tak dapat lagi ditahan. Murahan. Satu kata dengan seribu luka. Terlalu kasar untuk Almara dengar, tak siap perempuan itu mendengar kalimat yang sangat menyakitkan.

Dengan perlahan, kaki Almara berjalan mundur. Gadis itu membalikan badannya, mengahpus air mata dengan kasar.

Lalu dengan cepat Almara berlari keluar. Meninggalkan ruangan Darma dengan luka yang baru. Meninggalkan Darma dengan ingatan yang melupakan Almara.

Sakit. Satu kata yang menggambarkan Almara saat ini.