Rokok.
Atmosfer canggung diantara dua insan yang sedang duduk bersebelahan membuat gadis berambut panjang itu tak berani membuka suara. Wajah dingin lelaki yang tiba-tiba saja berada didepan rumahnya dan mengajak ia untuk ke taman dekat dengan komplek perumahannya membuat gadis itu tidak berani banyak berbicara. Raut wajah yang ia lihat tidak seperti biasanya dan ia yakinin mood lelaki yang ada disebelahnya sedang tidak baik-baik saja.
Gracilla dengan bosan mencabuti rerumputan kecil yang berada disekitarnya, berharap sang lelaki akan mengajak ia berbicara untuk memecahkan keheningan. Walaupun gadis itu tau, tidak mungkin William akan membuka mulut untuk mencari sebuah topik random yang ia harapakan.
Angin kencang tiba-tiba saja berhembus dari sebelah kanannya, dengan reflek Gracilla memejamkan mata disaat mata sipit itu terasa perih karena ada debu yang memasuki matanya. Ia mengusap mata tersebut dengan perlahan, membuka matanya secara perlahan ketika rasa perih itu perlahan menghilang. Pandangan yang ia dapat adalah gestur tubuh William yang seolah-olah ingin membantu gadis itu.
“Gue gak apa-apa.” Gracilla membenarkan posisi duduknya, mengalihkan pandangan karena tidak berani memandangi mata William dalam waktu yang lama.
William mengambil sebungkus rokok pada saku celananya, gerakan lelaki itu berhasil mengalihkan perhatian Gracilla. Ia memandangi bungkus rokok tersebut sembari menaikan sebelah alisnya, tatapannya terlihat begitu bingung ketika William mengambil semua putung rokok dari dalam bungkusnya.
Dalam sekali patahan, semua putung rokok tersebut berhamburan di tanah dengan bentuk yang sudah terbagi dua. Gracilla membulatkan mulutnya, menatap terkejut dengan aksi William secara tiba-tiba.
“Wil?! Lo ngapain?! Rokok kan mahal!”
“Tadinya saya mau ngerokok karena saya ngerasa gak baik-baik aja. Tapi saya inget, saya masih punya kamu yang buat saya tenang.”
Pernyataan yang diberikan William membuat Gracilla memperhatikan lelaki itu dengan lekat-lekat. Degup jantungnya berkerja dengan begitu cepat, tidak seperti biasanya. Kalimat yang William berikan barusan membuat perutnya didatangi kupu-kupu yang begitu banyaknya.
“Tadi saya bilang kalau saya mau dipeluk. Sekarang tolong kamu peluk saya. Boleh kan?”