Runtuhnya ego dari Jian.

Langkah kaki lemah itu berjalan dengan pelan menuju salah satu ruang khusus yang ditempati oleh Papanya. Rasanya Jian tak ingin menemui Jeffryan, namun hatinya tak bisa berbohong jika ia sangat mencemaskan Jeffryan.

Matanya menatap kearah pintu yang bertuliskan RUANG ICU. Pintunya tertutup dengan sangat rapat. Namun dengan sisa keberaniannya Jian memasuki ruangan tersebut.

Suara mesin EKG langsung menyambut Jian dengan sangat nyaringnya. Jarak suaranya terdengar sangat lambar, namun dapat membuat hati Jian sangat gelisah ketika mendengar detaknya.

Jian menoleh kearah sang Papa yang terbaring diatas ranjang dengan oxygen mask yang terpasang. Mata Jeffryan terlihat sangat kosong, seperti tidak ada kehidupan di keadaannya yang sekarang. Seperti mayat yang hanya membukakan matanya.

Langkah Jian tak berani mendekatkan dirinya dengan Jeffryan. Sekitar satu meter dari jarak kasur tersebut. Lelaki itu meremas baju khusus yang ia gunakan. Merasa sangat sakit dengan kondisi sang Papa sekarang.

Bola mata Jeffryan bergerak untuk melihat Jian. Perlahan kepala itu menoleh dengan sangat paksa, menatap Jian yang menunduk untuk menghindari tatapan sang Papa.

“J..J..Ji..an” panggil Jeffryan dengan sangat terbata.

Tangis Jian langsung pecah seketika. Hatinya tetap tak siap jika harus ditinggalkan walau mulutnya selalu meminta untuk Jeffryan pergi dari rumah. Jian tak siap melihat kondisi Jeffryan yang lemah seperti sekarang.

Jeffryan yang Jian kenal adalah Jeffryan dengan sifat lembut dan sedikit tegasnya. Tak pernah Jeffryan membentak dirinya atau almarhum adiknya. Tak pernah sekali pun Jeffryan memarahi Jian walau Jian melakukan kesalahan yang besar. Bahkan ketika ia membenci Jeffryan, tak pernah sekalipun Jeffryan ikut membencinya.

“Maaf... Maaf... Maafin Jian. Papa, maafin Jian. Jian jahat sama Papa. Jian durhaka sama Papa. Jian gak pernah ada disaat Papa butuh Jian.”

Anak itu semakin menunduk, isakannya terdengar sangat keras membuat hati Jeffryan berdenyut dengan sakit. Perlahan, langkah Jian mendekat. Tubuhnya dengan cepat memeluk tubuh Jeffryan. Dingin, sangat dingin dari pelukan 4 tahun lalu. Sekarang tak ada lagi kesamaan didiri Jeffryan.

Jian telah kehilangan kehangatan dari tubuh sang Papa. Jian telah kehilangan seluruh harapannya. Jeffryan yang sehat, Jeffryan yang akan membalas pelukannya, Jeffryan yang akan berbicara panjang lebar untuk Jian.

Semuanya telah hilang. Sebab penyakit yang diderita dan keegoisan dari Jian.