Rusak lagi.
—
Malam ini dengan angin kencang yang menusuk kulit Ayyara membuat gadis itu sedikit mengantuk. Ia tersenyum tipis kepada Sabiru saat ingin memasuki kamarnya. Untuk membersihkan badan dan juga terlelap pada malam yang cerah.
“Tidur yang nyenyak ya sayang.”
“Makasih Bunda.”
Ayyara merasakan sebentar usapan pada kepalanya dari Sabiru. Gadis itu sedikit menghangat, kembali Ayyara rasakan bagaimana kasih sayang seorang Ibunda.
“Ayya masuk ke kamar ya, Bunda. Good night.”
Ayyara berjalan menaiki anak tangga dengan cepat. Gadis itu benar-benar lelah setelah bermain dengan fikirannya tentang sang Papa. Ayyara kesal, Ayyara marah. Tapi bagaimanapun Ayyara tak bisa mendiami Papa-nya.
Pintu kayu dengan warna pink itu dibuka secara perlahan. Harus Strawberry yang Ayyara suka langsung tercium di indra penciumannya. Matanya mengedar, senyumannya langsung pudar saat ia lihat meja tempat alat lukisnya berantakan.
Ayyara berjalan dengan cepat mendekati meja itu. Melihat semua kuas dan kanvasnya yang rusak seperti di rusakan secara sengaja.
Gadis itu mengambil kanvas dan juga beberapa kuas yang rusak. Berjalan dengan tergesa keluar kamar lalu menghampiri Sabiru.
“Bunda! Bunda!” panggil Ayyara dengan berteriak karena panik.
Sabiru menoleh, menatap bingung pada anak tirinya. “Kenapa, sayang?”
“B-bun, yang terakhir masuk kamar siapa?” suara Ayyara terdengar gemetar. Gadis itu ingin menangis untuk meluapkan kemarahannya.
“Papa kamu. Kan Naura Bunda gak izinin masuk lagi setelah alat lukis kamu rusak.”
“Bun..semuanya rusak lagi.” Ayyara menunjukan Kanvas dan juga kuasnya. Air matanya mengalir, merasa tak percaya jika Bryan yang menghancurkan semua alat lukisnya.
Sebelumnya Bryan tak pernah marah hingga membentak Ayyara. Sebelumnya Bryan tak berani merusak alat kesukaan Ayyara. Dan sebelumnya Bryan tak pernah menuduh Ayyara yang macam-macam.
Ayyara kecewa, sangat kecewa. Ia tak habis pikir dengan Papanya. Papa nya jahat, Papa nya berubah, Papa nya tak lembut lagi kepada Ayyara.
Sedangkan dibalik pintu kamar, terdapat Naura yang tersenyum menang.
“Akibat lo ngelawan gue, Ayyara.”